Search This Blog

Saturday, June 12, 2021

Cupu Kyai Panjolo Yogyakarta

Menurut sejarahnya, upacara adat Cupu Kyai Panjala ini sudah ada turun-temurun sejak ratusan tahun silam. Eyang Seyek adalah nama asli Kyai Panjala. Eyang Seyek merupakan orang yang menemukan dan memiliki Cupu Kyai Panjala. Menurut cerita yang berkembang dimasyarakat, Cupu Kyai Panjala didapat Eyang Seyek saat njala (menjaring) di laut. Eyang Seyek tidak beristri dan tidak memiliki anak, akan tetapi Eyang Seyek memiliki 10 saudara kandung, 5 lelaki dan 5 wanita. Kakek buyut dari Dwijo Sumarto adalah saudara kandung Eyang Seyek, maka ia menjadi bagian dari ahli waris Cupu Kyai Panjala.

Sampai saat ini Cupu Kyai Panjala diyakini dan dimaknai sebagai simbol atau alat peramal untuk kondisi atau kejadian bangsa Indonesia dalam masa setahun ke depan. Semar Tinandu adalah gambaran keadaan penguasa dan pejabat tinggi, Palang Kinantang adalah gambaran untuk masyarakat menengah ke bawah, sedangkan Kenthiwiri adalah gambaran untuk rakyat kecil. Banyak warga lokal bahkan juga dari luar kota yang masih percaya akan hasil ramalan tersebut, maka digunakanlah acara ritual pembukaan cupu tersebut untuk meminta berkah.
Upacara Adat Cupu Kyai Panjala muncul sebagai aktivitas sosial masyarakat Jawa di Kabupaten Gunungkidul. Upacara ini merupakan upacara keagaaman secara global atau kepercayaan, artinya Upacara tersebut dilaksanakan dari berbagai unsur agama atau keyakinan. Aktivitas Upacara Pembukaan Cupu Panjala yang berfungsi sebagai penyelaras keharmonisan hubungan antara manusia. Upacara ini berkembang seiring dengan kebutuhan masyarakat untuk mempresentasikan emosi keagamaan. Kegiatan Upacara Pembukaan Cupu Panjala merupakan bentuk partisipasi seluruh anggota masyarakat di dalam menjaga hubungan-hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Upacara Pembukaan Cupu Panjala biasanya menggunakan sarana dan prasarana berupa sesaji, merupakan bentuk persembahan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala manifestasinya-Nya. Disebut Upacara Pembukaan Cupu Panjala, karena Cupu yang terbungkus lembaran-lembaran kain tersebut dibuka pada waktunya yaitu dibuka setiap satu tahun sekali. Ketiga Cupu tersebut diletakkan dalam sebuah kotak yang terbuat dari kayu. Cupu yang paling besar bernama Semar Tinandhu, Cupu yang berukuran sedang bernama Palang Kinantang dan yang paling kecil bernama Kenthiwiri. Dan dibungkus dengan lembaran-lembaran kain putih (kain Mori) yang berasal dari sejumlah peziarah yang mempunyai keinginan atau permohonan secara pribadi.
Tradisi Upacara Pembukaan Cupu Panjala adalah merupakan tradisi membaca tanda yang muncul pada lembaran-lembaran kain pembungkus Cupu Panjala yang dibuka oleh ahli waris dari keluarga trah Panjala, selanjutnya kondisi Cupu akan dilihat disaksikan oleh para pengunjung. Selama prosesi membuka kain pembungkus Cupu Panjala lembar demi lembar dilihat, dicermati baik kondisi kain atau ada tanda-tanda yang berupa bercak gambar atau adanya benda asing yang berada dalam lembaran-lembaran kain tersebut. Selanjutnya tanda- tanda yang ada di dalam setiap lembaran kain tersebut dibaca dan disampaikan oleh Juru Kunci Cupu Panjala. Tanda-tanda tersebut diyakini sebagai ramalan jaman atau tanda-tanda jaman dianggap muncul dari kekuatan gaib Cupu Panjala, yang merupakan pesan dari Sang Maha Pencipta melalui kekuatan gaib-Nya. Ramalan jaman yang muncul dari lembaran kain pembungkus Cupu Panjala merupakan sesuatu yang harus disampaikan oleh keluarga pewaris Cupu Panjala kepada masyarakat luas, ramalan jaman tersebut merupakan sebuah persepsi yang sangat ditunggu dan dinantikan oleh pengunjung.
Fungsi dari Upacara Pembukaan Cupu Panjala sebagai media untuk menghubungkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya diberikan berkah dan kesuburan, terkait dengan musim tanam tiba, upacara ini juga berfungsi sosial, yaitu sebagai kegiatan sosial kemasyarakatan untuk membina solidaritas antara masyarakat dalam berinteraksi. Selain itu, Upacara Pembukaan Cupu Panjala berfungsi sebagai tradisi yang telah mendarah daging dalam masyarakat Dusun Mendak-Girisekar, Kabupaten Gunungkidul dan diyakini sebagai ramalan jaman tersebut merupakan sebuah persepsi. memberikan petunjuk-petunjuk tentang kejadian yang akan terjadi, sehingga masyarakat dapat lebih waspada. Upacara Pembukaan Cupu Panjala dapat berfungsi sebagai 1). Sebagai sarana proyeksi masyarakat 2). Sebagai alat pendidikan. 3). Sebagai pengawas norma-norma. 4). Sebuah pengalaman agar lebih bertindak hati-hati.
Upacara adat Cupu Panjala mengajarkan nilai-nilai penting kepada diri sendiri dan masyarakat pemilik upacara ini. Nilai gotong royong diajakarkan sebagi pilar-pilar kehidupan bermasyarakat desa ini. Nilai-nilai edukasi berbasis ketuhanan diajarkan kepada masing-masing pribadi sebagai bagian pembelajaran dan pengingat diri sebagai makhluk sosio-religius.
Bertempat di Padukuhan Mendah, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang,Gunungkidul ,DIYogyakarta. Hari Senin Wage malam Selasa Kliwon Rejeb. Upacara membuka benda yang bernama Cupu Panjala yang di bungkus kain putih yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Pembukaan kain itu untuk mengetahui gejala-gejala yang erat kaitannya dengan masalah pertanian. Hasil tahun yang akan datang dan sambaran-sambaran secara nasional yang diyakini dan dianggap keramat oleh masyarakat sekitar. Pelaku upacara adalah keturunan Ki Panjala diikuti/disaksikan masyarakat sekitar.
Sumber :
kebudayaan.kemdikbud.

Friday, June 11, 2021

Nai Manggale (Si Gale-Gale), Sumatera Utara

Jika kita pergi ke pulau Samosir di tengah Danau Toba, Sumatera Utara, maka kita akan mendapati Si Gale-Gale sebuah patung yang bisa bergerak.
Si Gale-Gale adalah sebuah patung kematian yang dibuat apabila ada seseorang yang meninggal tanpa memiliki keturunan. Dimaksudkan agar orang yang meninggal tidak berduka di alam baka, Menurut kepercayaan orang Batak zaman dahulu, orang yang meninggal tanpa memiliki keturunan, roh-nya akan memasuki patung Si Gale-Gale.
Patung tersebut kemudian akan dituntun oleh seorang dalang bersorban sementara para penonton akan menari mengelilingi patung sambil bersedekah pelipur lara kepada patung.
Patung yang bisa bergerak Si Gale-Gale konon berasal dari legenda Nai Manggale. Ia adalah seorang manusia jelmaan patung buatan Datu Panggana.
Turur Cerita Rakyat Nai Manggale

Alkisah dahulu kala di Sumatera Utara, hidup seorang pembuat patung bernama Datu Panggana.
Ia dikenal sebagai seorang pematung handal. Hasil patung buatannya sangat halus juga nampak sangat mirip aslinya. Seperti patung hewan, tumbuhan maupun patung berbentuk manusia, hasilnya pasti akan sangat mirip aslinya.
Nama Datu Panggana menjadi sangat terkenal sehingga banyak penduduk memesan patung kepadanya.Pada suatau hari Datu Panggana Membuat Patung Nai Manggale Menurut legenda,  Datu Panggana pergi ke hutan, mencari kayu untuk ia gunakan membuat patung. Setelah mendapat kayu sesuai keinginannya, Datu Panggana kemudian pulang ke rumahnya. Kemudian Ia mulai bekerja membuat patung berbentuk perempuan. Datu Panggana bekerja siang malam membuat patung tersebut tanpa melihat model. Dalam bekerja Ia hanya membayangkan sesosok perempuan cantik. Semua perhatiannya dicurahkan pada patung tersebut, hingga akhirnya selesai juga patung tersebut, sebuah patung berbentuk seorang perempuan sangat cantik wajahnya.

Datu Panggana pun sangat terkejut dengan kecantikan patung buatannya, Saat itu lewatlah seorang laki-laki di depan rumah Datu Panggana. Laki-laki tersebut bernama Bao Partigatiga.Ketika melihat patung perempuan cantik, Bao Partigatiga sangat terkejut melihat kecantikannya. Bao Partigatiga Memberikan Pakaian Nai Manggale. Ia pun memuji keahlian Datu Panggana. Kebetulan Bao Partigatiga membawa pakaian serta perhiasan perempuan. Ia kemudian memakaikan pakaian serta perhiasan yang ia bawa pada patung perempuan tersebut.Nampak semakin cantiklah juga semakin menyerupai manusia patung tersebut setelah didandani oleh Bao Partigatiga. Datu Panggana dan Bao Partigatiga memandangi patung tersebut dengan takjub.

Setelah puas mamandangi patung tersebut, Bao Partigatiga kemudian berusaha melepaskan pakaian dan perhiasan miliknya dari patung tersebut. Keanehan pun terjadi, Bao partigatiga tidak mampu melepaskannya.Seolah-olah patung tersebut menolaknya. Bao Partigatiga pun marah pada Datu Panggana.
Ia meminta Datu Panggana untuk menghancurkan patung tersebut agar Ia bisa melepaskan pakaian dan perhiasan miliknya.

“Hai Datu Panggana! Aku tak bisa mengambil perhiasan milikku. Cepat Kau hancurkan patungmu buatanmu! Aku mau pulang sekarang.” kata Bao Partigatiga marah. “Enak saja Kau suruh Aku hancurkan patung milikku. Salahmu sendiri! Siapa menyuruh Engkau kenakan pakaian dan perhiasan milikmu.” jawab Datu Panggana. Mereka berdua bertengkar hebat karena masalah tersebut. Untuk menghindari perkelahian, Bao Partigatiga akhirnya pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia meninggalkan pakaian juga perhiasan miliknya menempel pada patung milik Datu Panggana.Sepeninggal Bao Partigatiga, Datu Panggana kemudian berusaha membawa patung perempuan cantik itu ke dalam rumahnya. Lagi-lagi keanehan terjadi, Datu Panggana tidak mampu memindahkan patung buatannya tersebut ke dalam rumah. Karena kesal, Ia akhirnya meninggalkan patung tersebut di luar rumah.

Pada suatu hari Seorang laki-laki bernama Datu Partoar lewat di depan patung perempuan cantik tersebut. Sama seperti Bao Partigatiga, Ia sangat takjub melihat kecantikannya. Ia kemudian berdoa kepada Dewata agar mengubah patung perempuan tersebut menjadi seorang manusia. Sang Dewata mengabulkan permohonan Datu Partoar, dalam sekejap patung perempuan cantik tersebut menjelma menjadi seorang wanita cantik jelita. Datu Partoar gembira. Ia kemudian mengajak gadis perempuan cantik jelmaan patung untuk ikut ke rumahnya. Gadis itu pun bersedia. Sesampainya di rumah, istri Datu Partoar sangat gembira menyambut kedatangan gadis cantik tersebut. Ia kemudian memberinya nama Nai Manggale.  

“Karena Engkau belum memiliki nama, Engkau kuberi nama Nai Manggale.”
Nai Manggale senang diterima hangat oleh keluarga Datu Partoar.
Ia kemudian menceritakan bahwa dirinya adalah seorang patung yang ditakdirkan oleh Dewata menjelma menjadi manusia karena doa Datu Partoar. Sejak saat itu Nai Manggale tinggal bersama keluarga Datu Partoar.
Nai Manggale telah dianggap sebagai anak oleh mereka.

Berita tentang sebuah patung menjelma menjadi seorang gadis cantik bernama Nai Manggale akhirnya terdengar di telinga Datu Panggana. Ia pun bergegas menuju rumah Datu Partoar. Terperanjatlah Ia saat mengetahui sosok Nai Manggale ternyata adalah patung buatannya dulu. 
“Nai Manggale harus ikut denganku karena sebelum menjadi manusia ia adalah sebuah patung buatanku.” kata Datu Panggana kepada Datu Partoar.
“Tak bisa begitu! Memang benar Ia adalah patung buatanmu, tapi aku menemukannya tersia-sia diluar rumah. Aku juga yang berdoa pada Sang Dewata agar patung buatanmu menjadi manusia. Jadi sudah sepantasnya Nai Manggale tinggal bersamaku.” kata Datu Partoar.
Pertengkaran diantaranya keduanya semakin runcing dengan munculnya Bao Partigatiga.
“Pakaian dan perhiasan yang dikenakan Nai Manggale adalah kepunyaanku. Jadi Nai Manggale seharusnya tinggal bersamaku.” kata Bao Partigatiga. Perselisihan diantara ketiganya semakin lama semakin memanas.Masing-masing tidak ada yang mau mengalah. Ketiganya merasa berhak memiliki Nai Manggale dengan alasan masing-masing. Karena tidak ada jalan keluar, ketiganya lantas sepakat mengadukan masalah tersebut kepada Aji Bahir, sesepuh desa mereka.

Aji Bahir terkenal sebagai sosok cerdik bijaksana. Ia dikenal mampu memberikan jalan penyelesaian bagi orang-orang yang tengah bertikai. Saran dan pendapatnya dapat diterima orang-orang yang mengadu kepadanya. Setelah mendengarkan dengan seksama penjelasan dari ketiganya, Aji Bahir kemudian memberikan saran.
“Karena Datu Partoar memohon kepada Sang Dewa hingga akhirnya Nai Manggale menjelma menjadi seorang manusia, maka Datu Partoar layak menjadi ayah bagi Nai Manggale.” kata Aji Bahir.
“Datu Panggana adalah pembuat patung Nai Manggale sebelum menjadi manusia, maka Ia berhak menjadi paman Nai Manggale. Kata Aji Bahir kepada mereka bertiga.
“Sedangkan Bao Partigatiga, usianya masih muda. Ia pantas menjadi kakak Nai Manggale.” kata Aji Bahir lagi.
Ketiganya kemudian menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju. Ketiganya menjadi lega karena masalah mereka telah selesai. Mereka juga merasa bahagia karena bisa bersaudara dengan kehadiran Nai Manggale.
Kini Nai Manggale yang kecantikannya terkenal diantara suku-suku Tapanuli, hidup berbahagia bersama kedua orang tuanya, pamannya dan juga kakaknya.
Nai Manggale Menikah
Kecantikan Nai Manggale tersebar hingga ke desa tetangga. Seorang pemuda bernama Datu Partitik memberanikan diri mendatangi Datu Partoar untuk melamar Nai Manggale. Namun lamaran tersebut ditolak oleh Nai Manggale karena Datu Partitik amat buruk rupa. Tidak putus asa, Datu Partitik lantas menggunakan ilmu sihir agar Nai Manggale menyukainya. Saat mencoba melamar untuk kedua kalinya, lamaran Datu Partitik diterima oleh Nai Manggale. Merekapun akhirnya menikah dengan upacara meriah. Tapi sayang kebahagian tersebut tidak berlangsung lama. Setelah menikah Nai Manggale merasa banyak musibah menimpanya. Ia juga tak kunjung dikaruniai seorang anak. Ia merasa mungkin Dewata tidak memberinya keturunan karena ia sendiri berasal dari sebuah patung.

Karena merasa sedih Nai Manggale terkena sakit keras berkepanjangan. Tidak ada satu tabib pun yang mampu mengobati penyakitnya. Merasa hidupnya tidak akan lama lagi, Nai Manggale lantas berpesan kepada suaminya agar membuatkan sebuah patung mirip dirinya agar menjadi kenangan bagi orang-orang yang selama ini mencintainya. Tidak lama kemudian Nai Manggale pun meninggal dunia. Sepeninggal istrinya, Datu Partitik kemudian meminta Datu Panggana untuk membuatkan patung sesuai permintaan mendiang istrinya. Patung tersebut diberi nama Si Gale-Gale. Semenjak saat itu patung Si Gale-Gale akan dibuat untuk mengenang orang yang meninggal dunia tanpa memiliki keturunan.

Tuesday, June 8, 2021

Putri Niweri Gading dari Aceh

Cerita Rakyat kali ini berkisah tentang Putri Niweri Gading. Al Kisah, Pada jaman dahulu di Negeri Alas termasuk wilayah Nangro Aceh Darussalam, ada seorang raja yang bijaksana dan dicintai rakyatnya. la memerintah dengan adil dan bijaksana, sehar-hari pikirannya dicurahkan untuk memajukan negeri dan kemakmuran rakyatnya.Namun sayang sang raja tidak mempunyai putera. Mereka sedih, atas nasihat orang pintar raja dan permaisuri kemudian tekun berdo’a sambil berpuasa.

Beberapa hari kemudian permaisuri mengandung. Setelah sampai waktunya permaisuri melahirkan anak laki-Iaki yang diberi nama Amat Mude. Belum genap setahun umurAmat Mude. ayahnya meninggal dunia. Karena Amat Mude. masih bayi maka adik sang raja atau paman (Pakcik) Amat Mude. diangkat menjadi raja sementara.

Pakcik itu bernama Raja Muda. Setelah diangkat menjadi raja ia malah bertindak kejam kepada Amat Mude. dan ibunya. Mereka diasingkan ke sebuah hutan terpencil. Raja Muda ingin menguasai sepenuhnya kerajaan yang sesungguhnya menjadi hak Amat Mude.
Walau dibuang jauh dari istana permaisuri tidak mengeluh, ia menerima cobaan berat dengan sabar dan tabah. lalu la mebesarkan Amat Mude. dengan penuh kasing sayang. Tahun demi tahun berlalu. tak terasa Amat Mude. tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan.
Amat Mude suka memancing ikan di sungai. Pada suatu hari, Permaisuri dan Amat Mude pergi ke sebuah desa di pinggir hutan untuk menjual ikan. Tanpa disangka, ia bertemu dengan saudagar kaya raya. Ternyata ia bekas sahabat suaminya dulu.
“Mengapa Tuan Putri dan Putra Mahkota berada di tempat ini?” tanya saudagar itu keheranan.
Permaisuri menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya. Mendengar hal itu, sang saudagar segera mengajak mereka ke rumahnya dan membeli semua ikannya. Setibanya di rumah, saudagar ltu menyuruh istrinya segera memasak ikan tersebut. Ketika sedang memotong perut ikan, sang istri merasa heran karena dari perut ikan itu keluar telur ikan yang berupa emas murni. Kemudian, butiran emas tersebut dijual ke pasar oleh istri saudagar. Uangnya ia gunakan untuk membangun rumah permaisuri dan putranya. Sejak saat itu, permaisuri dan Amat Mude telah berubah menjadi orang kaya berkat telur-telur emas dari ikan.

Cerita tentang kekayaan permaisuri dan putranya sampai ke telinga Raja Muda.
Pada suatu hari, Raja Muda memanggil Amat Mude ke istana. la memerintahkan Amat Mude memetik kelapa gading untuk mengobati penyakit istri Raja Muda, di sebuah pulau yang terletak di tengah laut. Konon, lautan di sekitar pulau ltu dihuni oleh binatang-binatang buas. Siapa pun yang melewati lautan itu pasti celaka.

Raja Muda mengancam Amat Mude jika tidak berhasil, ia akan dihukum mati. TapiAmat Mude tak peduli dengan ancaman itu. Niatnya tulus hendak menolong istri Raja Muda. Ia pun segera berangkat meninggalkan istana.
Setibanya di pantai, ia duduk termenung. Tiba-tiba, muncul di hadapannya seekor ikan besar bernama Si lenggang Raye, didampingl oleh Raja Buaya, dan seekor Naga besar.

Singkat cerita, Amat Mude telah menemukan pohon kelapa gading dengan bantuan Silenggang Raye, Raja Buaya, dan seekor naga Selanjutnya, Amat Mude memanjat pohon. Ketika sedang memetik buah kelapa gading, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan.

“Siapa pun yang berhasil memetik buah kelapa gading, dia akan menjadi suamiku.” “Siapakah Engkau?” tanya Arnat Mude. “Aku Putri Niwer Gading,” jawabnya suara dari bawah pohon kelapa. Amat Mude cepat-cepat memetik kelapa gading. Setelah turun dari atas pohon kelapa. Alangkah takjubnya Amat Mude melihat kecantikan Putri Niwer Gading. Akhirnya, Amat Mude pun mengajak sang putri pulang ke rumahnya untuk dipersunting. Setelah menikah, Amat Mude beserta istri dan ibunya berangkat ke istana untuk menyerahkan buah kelapa gading.
Kedatangan Amat Mude membuat Raja Muda terheran-heran. Orang yang berhasil melewati rintangan di pulau angker pastilah orang sakti. la tidak mau main-main Iagi. Kini tidak alasan untuk menghukum mati keponakannya itu. Akhirnya Raja Muda sadar akan kesalahanya. la memohon maaf kepada Permaisuri dan Amat Mude. Beberapa hari kemudian Amat Mude dinobatkan menjadi Raja Negeri Alas.

Hikmah dari cerita tersebuat : Ketika datang musibah terjadi yang diperlukan kesabaran tidak mengeluh dengan bekerja keras & doa kita akan sampai pada perbaikan dalam kehidupan selanjutnya.

Friday, June 4, 2021

Batu Bagga - Sulawesi

Kabupaten Toli-toli, Sulawesi Tengah terkenal sebagai penghasil rempah-rempah berkualitas ini terdapat sebuah batu yang melegenda di kalangan masyarakat setempat. Konon batu tersebut merupakan jelmaan sebuah perahu bagga (perahu layar), sehingga di sebut batu bagga.
Pada zaman dahulu kala di Sulawesi Tengah, hiduplah seorang pria bernama Intobu. Seorang Ayah yang tinggal berdua bersama anak satu-satunya yang bernama Impalak. Mereka hidup serba kekurangan. Pekerjaan sehari-hari mereka adalah menjadi nelayan. Mereka pergi ke laut untuk menangkap ikan setiap malam hari, bahkan pada saat cuaca buruk tetap mencari Ikan.

Intobu selalu menasehati anaknya, “Menjadi nelayan adalah satu-satunya penghasilan kita. Jangan anggap cuaca buruk sebagai musuh kita.” Impalak mengangguk. “Ya, Ayah,” katanya.
Intobu dan Impalak bekerja sebagai nelayan selama bertahun-tahun. Namun berjalannya waktu Impalak mulai bosan dengan pekerjaan itu. Dia ingin mencoba sesuatu yang baru. Dia ingin membuat hidup lebih baik untuk ayahnya dan dirinya sendiri.

Suatu hari, Impalak mencoba berbicara dengan ayahnya tentang keinginannya.
“… Ayah, maafkan aku,” Impalak merasa ragu.
“Ada apa, Anakku?” Intobu penasaran melihat sikap anaknya yang aneh.
“Ayah, sebenarnya saya ingin berhenti bekerja sebagai nelayan. Saya ingin pergi ke luar negeri dan mencoba bekerja yang lain,” kata Impalak.
Intobu sedih mendengar keputusan putranya, tapi dia juga ingin Impalak sukses.
“Kalau itu keputusanmu, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mempersilakanmu pergi. Aku hanya bisa mendoakan keselamatan dan kesuksesanmu” ucap Intobu.
“Tapi aku ingin kamu selalu mengingat tanah airmu. Ingat desa dan ayahmu, yang sudah tua ini.” lanjutnya.
“Ya, Ayah. Aku akan selalu ingat. Terima kasih,” kata Impalak bersemangat.
Keesokan harinya, Impalak berangkat ke pelabuhan. Dia melihat Bagga (perahu layar) dan pergi menemui pemiliknya.

“Maaf, Tuan. Saya ingin tahu apakah saya boleh berlayar dengan Anda?” Tanya Impalak.
Pemilik Bagga terdiam sesaat.
“Ini bukan masalah bagiku. Tapi mengapa kamu ingin berlayar denganku, dan apakah kamu sudah meminta izin dari orang tuamu?” Tanya pemilik Bagga kemudian.
“Saya bekerja di sini sebagai nelayan dengan ayah saya, tetapi saya ingin mencoba peruntungan di luar negeri. Ayah saya setuju dengan rencana saya,” kata Impalak.
“Baiklah, aku akan berlayar besok. Temui aku di sini besok pagi. Ngomong-ngomong, siapa namamu?” Tanya pemilik bagga ini.
“Terima kasih Pak. Nama saya Impalak, Pak,” jawab Impalak senang.
Kembali ke rumahnya, Impalak memberi tahu ayahnya tentang pertemuannya dengan pemilik perahu Bagga.

“Kapan kau meninggalkan rumah nak ?” Intobu bertanya.
“Besok, Ayah,” jawab Impalak.
Selanjutnya pagi harinya, impalak pergi ke pelabuhan bersama ayahnya. Perahu Bagga sedang bersiap berlayar.

“Cepat, Impalak!” Pemilik Bagga berteriak.
Impalak mencium tangan ayahnya“
“Ayah saya pamit, mohon jaga diri ayah baik-baik,” kata Impalak.
“Pergilah, Nak. Aku memberkatimu,” kata Intobu.
Ada air mata berlinang di mata Intobu saat melihat Bagga meninggalkan pelabuhan.

Beberapa tahun berlalu. Setiap kali Intobu melihat perahu Bagga, dia selalu berharap anaknya akan kembali. Tetapi tidak ada kabar sama sekali dari Impalak.
Suatu hari, Intobu pergi memancing seperti biasa.
Dia menggunakan perahu kecil dan menuju ke perairan terbuka dekat pelabuhan. Pada saat itulah dia melihat Bagga menuju pelabuhan.
Ketika Bagga sudah mendekati sampan Intobu, dia melihat seorang pemuda tampan berdiri di dek depan Bagga ini. Pemuda itu ditemani oleh istrinya yang cantik. Intobu mengenali pemuda. Dia adalah Impalak putra kesayangannya.
“Impalak, Nak.” Teriak Intobu.
“Impalak! Impalak, anakku!” Intobu berteriak dengan semangat.
Impalak mendengar teriakan ayahnya, tapi dia mengabaikannya.
“Sayangnya, ada seseorang di sana yang memanggil namamu. Apa itu ayahmu?” Tanya istrinya.
“Bukan, dia bukan ayahku. Abaikan dia sayang” Impalak malu mengakui ayah tuanya di depan istrinya yang cantik.
Intobu mencoba mendayung perahunya lebih mendekat ke Bagga, tetapi tiba-tiba ada ombak besar di lautan.
Perahu Intobu dihantam ombak dan hampir tenggelam.
“Tolong … Bantu aku … Impalak, tolong …!” Intobu berteriak, meminta bantuan anaknya.
Tapi Impalak mengabaikan ayahnya. Dia bahkan mengubah Bagga menjadi berlawanan dengan arah perahu sampan Intobu.

Intobu sangat bersedih melihat Anak yang dia sayangi mengabaikannya seperti itu.
Kekecewaan bercampur dengan kesedihan dan kemarahan.
Dia melihat ke langit dan berdoa, “Oh, Tuhan, tolong dengarkan doaku. Jika memang dia benar Impalak anakku. Aku mengutuk Bagga anak pemberontak itu menjadi batu.”
Tidak lama setelah doa yang dipanjatkan oleh Intobu, badai datang dan melanda Impalak Bagga ini.
Angin bertiup sangat kencang, mendorong Bagga ke pantai.
Tiba-tiba, Bagga dan Impalak berubah menjadi batu. batu masih ada sampai sekarang. Orang menyebut Batu Bagga.

Pesan moral dari Legenda Batu Bagga (Cerita Rakyat Sulawesi Tengah) ini adalah hormati dan sayangi kedua orang tuamu. Kesuksesan dan kebahagiaanmu dimasa yang akan datang tergantung dari doa yang mereka panjatkan.

Wednesday, May 26, 2021

Ki Ageng Sela

Rikala zaman semono ing desa Sela, Ki Ageng Sela sing kondhang karo ajine yaiku bisa nakluke gludug. Ki Ageng Sela turunaning Majapahit sahingga dheweke isih termasuk anak-putu Brawijaya. Nadyan mangkono, dheweke ora gelem gantung uripe marang kaluwargane.

Ki Ageng Sela berasal dari Purwodadi tepatnya di daerah Tawangharo. Dia merupakan keturunan dari kerajaan Majapahit sehingga dia dapat dikatakan sebagai anak-putu Brawijaya. Walaupun dia merupakan keturunan kerajaan Majapahit, namun dia tidak mau bergantung. Dia ingin mencari jati dirinya sendiri.

Ki Ageng Sela nduweni jeneng luwih saka siji ing uripe. Sing kepisan nalika dheweke isih enom,jeneng Ki Ageng Sela yaiku Bagus Songgom. Banjur, dheweke nduweni jeneng Si Abdul Rahman. Dheweke dijenengi Si Abdul Rahman amarga dheweke dianggep sesepuh karo masyarakat. Jeneng Ki Ageng Sela dhewe diwenehi ning dheweke amarga dheweke nduweni akal sing apik utawa susila/Sela.

Ki Ageng Sela memiliki nama lebih dari satu selama hidupnya. Yang pertama ketika dia muda, Ki Ageng Sela bernama Bagus Songgom, yang kedua bernama Ri karena dia merupakan anak-putu trah majapahit, yang ketiga bernama Si Abdul Rahman karena dia dianggap sebagai sesepuh oleh masyarakat. Nama Ki Ageng Sela sendiri atau Ki Gede Sela diberikan kepadanya karena semasa hidupnya dia memiliki akal budi yang baik atau susila/Sela.

Kawit cilik, Ki Ageng Sela wis dadi wong tani sing ulet. Kebukti nalika dheweke ngolah sawah, dheweke bisa nandur cepet. 
Ki Ageng Sela merupakan seorang petani yang ulet, itu sudah terlihat ketika dia masih remaja. Terbukti, ketika dia bertani dia dapat mengolah tanahpun sangat cepat.

Selawase urip, Ki Ageng Sela cedhak banget marang Gusti Allah. Kebukti, nalika dheweke lagi nandur dheweke diganggu karo gludug. Ki Ageng Sela anyel amarga ngrasa keganggu karo gludug iku. Banjur, dheweke nantang gludug iku kanggo gelut. Dheweke njaluk gludug iku nduduhi wujud asline. Banjur, ana mbah-mbah kakung sing ngadheg ana ngarepe Ki Ageng Sela. Rupane, mbah kakung iku wujud saka gludug mau. Banjur, Ki Ageng Sela gelut karo mbah kakung iku. Akhire, Ki Ageng Sela bisa angalahke Mbah Kakung iku. Sakwise bisa ngalahke gludug iku, Ki Ageng Sela naleni gludug iku nganggo godhong jarak. Sakwise ditaleni, Ki Ageng Sela gawa gludug iku menyang omahe nganggo wit gandri.Nalika tekan omah, Ki Ageng Sela ndheleh gludug iku ing mburi omahe (sing saiki dadi makam Ki Ageng Sela).
Kabar Ki Ageng Sela sing bisa naleni lan gawa bali gludug iku krungu tekan Sunan Kalijaga. Banjur, Sunan Kalijaga ngangkon Ki Ageng Sela gawa gludug iku ning Demak. Dheweke ngangkon Ki Ageng Sela gawa gludug supaya Demak bisa keadoh saka mala.

Nalika krungu panjaluke Sunan Kalijaga, Ki Ageng Sela nrima panjaluke Sunan Kalijaga. Banjur, dheweke gawa dhewe percikane gludug iku sing sakdurunge wis ditaleni saka omah.

Nalika tekan alun-alunDemak. Rupane, tekane Ki Ageng Sela barengan karo wafate Patiunus (1521 SM). Banjur, Ki Ageng Sela menehi kurmat marang para Wali sing nalika iku ana ing alun-alun Demak. Sakwise mangkono, dheweke melu neruske pemakamane Patiunus (sing saiki dadi Ombor-ombor).

Nalika Ki Ageng Sela tekan Demak, Ki Ageng Sela nggambar naga ing ngarep masjid Demak tepate ana ing gerbang utama. Nalika dheweke durung bubaran nggambar, rupane ana mbah wadon sing gebyur gambar iku. Banjur, krungu swara gludug banter. Sahingga, gambar sing digambar Ki Ageng Sela iku ora rampung amarga mahluk-mahluk iku lunga dhewe.

Percikane gludug sing digawa Ki Ageng Sela iku digunakake nalika Grebeg Maulud. Tungku sing digunakake iku tungkune Joko Tarub. Banyu sing dienggo banyu saka sendhang lan sing masak iku Nawang Wulan. Saiki, Percikane gludug mau isih digunakake nalika ana event-event Mataram. Misale, Grebeg Maulud, Grebeg Sura,lsp.

Sunday, May 23, 2021

Mandin Tangkaramin Kalimantan Selatan

Di sebuah desa yang bernama Malinau di Kalimantan Selatan, hiduplah dua orang pemuda bernama Bujang Alai dan Bujang Kuratauan. Kedua pemuda itu selalu hidup bermusuhan karena sifat mereka yang sangat bertentangan. Bujang Alai merupakan putra seorang kaya dan berwajah tampan. Namun sayang kelebihannya itu membuatnya tumbuh menjadi pemuda yang angkuh. Sementara Bujang Kuratauan memiliki wajah yang biasa biasa saja dan berasal dari keluarga sederhana.
Kemanapun ia pergi, Bujang Alai senantiasa menyelipkan keris di pinggangnya. Pemuda itu selalu berusaha menunjukkan kepada semua orang siapa dirinya. Tak jarang ia berlaku sewenang wenang terhadap orang lain, utamanya warga kampungnya yang miskin. Sampai saat ini tak ada seorangpun yang berani melawannya karena mereka takut kepada ayah Bujang Alai.


Berbeda dengan Bujang Alai, Bujang Kuratauan merupakan sosok pemuda yang sopan dan hormat terhadap siapa saja. Pemikirannya yang cermerlang membuatnya disegani warga walaupun usianya masih muda. Bujang Kuratauan juga selalu membawa senjata berupa parang bungkul jika bepergian. Hal itu ia lakukan semata mata untuk membela diri. Beberapa kali Bujang Alai mencari gara gara supaya berkelahi dengannya.

Pada suatu ketika, Desa Malinau gempar. Sebuah keluarga kehilangan anak gadisnya yang tiba tiba lenyap begitu saja. Warga desa telah membantunya mencari ke seluruh pelosok kampung, bahkan sampai ke hutan, namun tak ada jejak sang gadis sedikitpun. Orang tua sang gadis yang mulai putus asa tak berhenti menangis.
Ditengah kegemparan yang melanda kampung Malinau, tiba tiba Bujang Alai berkata dengan lantangnya.

“Di rumahku ada seorang gadis yang kusembunyikan. Siapa saja boleh menjemput gadis itu setelah berhasil menahan mata kerisku”, suaranya terdengar pongah. Semua warga tak menyangsikan bahwa ucapannya itu ditujukan kepada Bujang Kuratauan.

“Apa maksudmu siapa saja boleh menjemput gadis itu ?’, tanya Bujang Kuratauan yang panas hati mendengar ucapan Bujang Alai. “Lepaskan gadis itu dan kembalikan pada orang tuanya”, teriaknya dengan suara keras. 
 
Bujang Alai tersenyum senang. Ia merasa pancingannya kali ini berhasil.
“Sebentar lagi orang ini akan menyerangku”, pikirnya. “Aku punya kesempatan untuk menghabisinya”. Bayangan kemenangan membuat senyum Bujang Alai semakin lebar.
“Kalau kau ingin membawa gadis itu kepada orang tuanya, hadapi aku dulu”, tantang Bujang Alai.

Pemuda itu segera mencabut kerisnya dan mengambil posisi siap menyerang. Bujang Kuratauan tak mampu menahan emosinya lagi. Segera saja ia mengeluarkan parang bungkul yang selalu dibawanya. Perkelahianpun tak terelakkan lagi.
Bujang Alai dan Bujang Kuratauan bertempur dengan sengit. Mereka saling menyerang. Kedua pemuda itu sama sama tangguh. Mereka berhasil menangkis setiap serangan yang dilancarkan lawan. Karena hari sudah petang, Bujang Alai menantang Bujang Kuratauan untuk melanjutkan pertarungan mereka esok pagi.
“Aku akan melayani dimana saja dan kapan saja kau hendak bertarung denganku”, jawab Bujang Kuratauan tegas. Ia sungguh tak dapat menerima tindakan Bujang Alai menyembunyikan anak gadis orang seenaknya
“Baik kalau begitu, esok pagi kutunggu kau di Mandin Tangkaramin”, ujarnya sambil berlalu.

Mandin Tangkaramin merupakan air terjun yang terletak tak jauh dari Desa Malinau. Air terjun itu tak terlalu tinggi dan dikelilingi hutan lebat. Dibawahnya terdapat banyak bongkahan batu besar dan kecil. Tak lama setelah fajar menyingsing, Bujang Alai dan Bujang Kuratauan telah tiba disitu.
Pertarungan segera dilanjutkan. Parang bungkul dan keris yang beradu menghasilkan bunyi berdentang dan percikan api. Bujang Alai dan Bujang Kuratauan mengeluarkan segenap keahlian yang mereka miliki. Setelah bertarung cukup lama, kedua pemuda terlihat mulai kelelahan.

Mungkin karena keinginannya untuk segera menghabisi lawannya, Bujang Alai mulai kehilangan kendali. Ia menyerang Bujang Kuratauan membabi buta. Kerisnya disabet tanpa henti sampai ia kehabisan tenaga. Satu saat pantulan sinar matahari dari kerisnya menyilaukan matanya. Bujang Alai sempat lengah. Pada saat itulah parang bungkul milik Bujang Kuratauan menghantam tubuhnya dengan keras. Tubuh Bujang Alai terhuyung dan tersungkur. Ia mati seketika.

Berita terbunuhnya Bujang Alai dalam pertarungan melawan Bujang Kuratauan segera menyebar di Desa Malinau dan sekitarnya. Keluarga Bujang Alai tak dapat menerima kematiannya. Ayahnya sangat terpukul mendapati putranya mati dengan tubuh lebam karena hantaman parang bungkul Bujang Kuratauan. Iapun berniat menuntut balas dengan berencana menyerang Bujang Kuratauan dan keluarganya.

Bujang Kuratauan bukan tak tahu keluarga Bujang Alai akan menuntut balas. Apalagi desas desus yang terdengar kalau rumahnya akan diserang semakin santer. Oleh karena itu Bujang Kuratauan dan ayahnya segera mengatur siasat.

Setelah beberapa hari menunggu, tibalah saat yang dinanti. Bujang Kuratauan dan keluarganya yang tak pernah tidur di rumah sejak kejadian itu segera menjalankan siasat mereka begitu mendengar suara ramai dari kejauhan. Seluruh anggota keluarga Bujang Kuratauan menyalakan obor dan berlari sambil memegangnya.
“Ayo cepat..”, teriak ayah Bujang Kuratauan yang memimpin di depan. Pengalamannya keluar masuk hutan membuatnya tahu persis arah yang dituju meski dalam kegelapan. Keluarga Bujang Alai terus berlari mengikuti obor yang dibawa keluarga Bujang Kuratauan. Rasa marah membuat mereka berlari kencang tanpa lelah.
“Sekaraaaangg…..”, teriak ayah Bujang Kuratauan. Seluruh anggota keluarga segera mengikutinya melempar obor yang mereka pegang. Keluarga Bujang Alai yang berlari mengejar obor tak melihat dimana mereka berada.
“Aaaaaaaaaa….…..”, terdengar teriakan keluarga Bujang Alai yang jatuh ke dasar sungai. Rupanya ayah Bujang Kuratauan dan keluarganya membuang obor mereka ke dasar sungai tempat jatuhnya air terjun Mandin Tangkaramin.
Tubuh seluruh anggota keluarga Bujang Alai dan para pengikutnya yang jatuh terhempas menghantam batu batu tajam di dasar sungai. Cucuran darah yang mengalir membuat batu batu disitu berwarna merah. Sampai kini masyarakat sekitar percaya bongkahan batu besar berwarna merah seperti kulit manggis yang masak merupakan batu yang terkena darah keluarga Bujang Alai. Mereka menyebutnya Manggu Masak.
Pesan moral dari cerita rakyat Kalimantan Selatan ini adalah jangan berlaku sombong dan sesuka hati. Orang yang jahat akan mendapat balasan dari kejahatannya.

Friday, May 21, 2021

Danau Kembar Sumatera Barat

Danau Kembar ini berada di Kawasan Danau Kembar yang letaknya ada di Kecamatan Lembang Jaya dan Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Jaraknya sekitar 60 kilometer dari pusat kota Padang atau sekitar 50 kilometer dari pusat kota Solok.

Ada sebuah cerita yang turun temurun di sampaikan mengenai Legenda terbentuknya Danau Kembar ini, berikut dibawah ini ceritanya

Di zaman dahulu kala ada seorang niniak (Orang yang Sudah Tua) yang bernama Niniak Gadang Bahan yang kerjanya adalah Maarik kayu (membuat papan/tonggak). Niniak ini sangat unik, badannya besar tinggi dan bahannya sebesar Nyiru. Bahan yang dimaksud di sini adalah beliungnya/kampak (alat untuk menebang kayu dan membuat papan). Nyiru adalah tempat menempis beras yang lebarnya kira-kira 50cmx80cm. Setiap berangkat ke hutan niniak ini tidak lupa membawa beliungnya.

Niniak ini makannya hanya sekali seminggu, tapi sekali makan 1 gantang. Untuk mendapatkan kayu/papan yang bagus dia harus naik gunung/hutan. Setelah beberapa hari dalam hutan dia akan pulang dengan membawa beberapa helai papan/tonggak yang telah jadi dan membawa ke pasar untuk di jual. Dari hasil penjualan papan/tonggak inilah dia menghidupkan keluarganya.

Pada suatu hari ketika niniak ini berangkat ke hutan, di tengah hutan tempat dia bisa lewat tertutup. Niniak ini kaget, kenapa ada makhluk yang menghambat jalannya. Makhluk ini sangat besar sehingga menutup pemandangannya. Niniak berusaha untuk mengusirnya tapi makhluk ini tidak bergeming, malah balik menyerang. Ternyata makhluk ini adalah seekor ular naga yang besar. Tidak bisa disangkal lagi darah pituah niniak moyang langsung mengalir ke seluruh tubuh niniak, katanya: “Lawan tidak di cari, kalau bertemu pantang mengelak”.

Terjadilah perkelahian antara naga dan niniak gadang bahan. Naga melakukan penyerangan, Niniak Gadang Bahan tidak tinggal diam. Seluruh kemampuan yang dimiliki oleh niniak gadang Bahan di keluarkan. Beliung yang berada di tangan Niniak gadang Bahan bereaksi, dan memang Niniak Gadang Bahan sangat ahli memainkannya, tentu jurus-jurus silat yang sudah mendarah mendaging oleh Niniak Gadang Bahan tak lupa dikeluarkan.


Akhirnya Naga betekuk lutut dan menyerah. Naga kehabisan darah karena sabetan beliaung Niniak Gadang Bahan. Kepala Naga Nyaris putus, darah mengalir dengan deras. Angku Niniak Gadang Bahan menarik naga itu dan melempar dengan sekuat tenaga dan sampai ke sebuah lembah.

Setelah berlangsung beberapa lama Angku Niniak Gadang Bahan mendatangi lembah tempat naga dilemparkan. Ternyata Niniak Gadang Bahan kaget, naga tersebut ternyata tidak mati, dia malah melambangkan badannya dengan posisi membentuk angka delapan, darah dari kepala ular tetap mengalir sehingga memerahkan daerah tersebut.

Sehingga daerah ini menjadi tempat kunjungan yang manarik bagi Angku, dan juga orang-orang yang ada di sekitar itu. Tapi apa yang terjadi, lama-lama badan ular ini mulai tertimbun oleh tanah, dan diantara dua lingkaran ular itu tergenanglah air yang membentuk dua danau kecil. Lama kelamaan danau ini terus semakin besar, sehingga terbentuklah dua bawah Danau yang besar dan indah.

Menurut cerita yang diterima itupulalah terbentuk dua nama daerah. Pertama adalah Lembah Gumanti, yang berasal dari kata “lembah nago nan mati” yaitu sekarang menjadi nama Kecamatan dari tempat kedua Danau ini. Kemudian ada juga yang mengartikan “Lembah Nago nan Sakti”. Yang kedua adalah sebuah daerah yang bernama “Aia Sirah” (Air Merah). Di daerah ini terkenal dengan airnya yang merah. Konon ceritanya penyebab dari air di daerah itu merah adalah darah yang terus keluar dari kepala naga, karena sampai sekarang Naga tersebut masih hidup dan masih mengeluarkan darah.