Search This Blog

Tuesday, June 8, 2021

Putri Niweri Gading dari Aceh

Cerita Rakyat kali ini berkisah tentang Putri Niweri Gading. Al Kisah, Pada jaman dahulu di Negeri Alas termasuk wilayah Nangro Aceh Darussalam, ada seorang raja yang bijaksana dan dicintai rakyatnya. la memerintah dengan adil dan bijaksana, sehar-hari pikirannya dicurahkan untuk memajukan negeri dan kemakmuran rakyatnya.Namun sayang sang raja tidak mempunyai putera. Mereka sedih, atas nasihat orang pintar raja dan permaisuri kemudian tekun berdo’a sambil berpuasa.

Beberapa hari kemudian permaisuri mengandung. Setelah sampai waktunya permaisuri melahirkan anak laki-Iaki yang diberi nama Amat Mude. Belum genap setahun umurAmat Mude. ayahnya meninggal dunia. Karena Amat Mude. masih bayi maka adik sang raja atau paman (Pakcik) Amat Mude. diangkat menjadi raja sementara.

Pakcik itu bernama Raja Muda. Setelah diangkat menjadi raja ia malah bertindak kejam kepada Amat Mude. dan ibunya. Mereka diasingkan ke sebuah hutan terpencil. Raja Muda ingin menguasai sepenuhnya kerajaan yang sesungguhnya menjadi hak Amat Mude.
Walau dibuang jauh dari istana permaisuri tidak mengeluh, ia menerima cobaan berat dengan sabar dan tabah. lalu la mebesarkan Amat Mude. dengan penuh kasing sayang. Tahun demi tahun berlalu. tak terasa Amat Mude. tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan.
Amat Mude suka memancing ikan di sungai. Pada suatu hari, Permaisuri dan Amat Mude pergi ke sebuah desa di pinggir hutan untuk menjual ikan. Tanpa disangka, ia bertemu dengan saudagar kaya raya. Ternyata ia bekas sahabat suaminya dulu.
“Mengapa Tuan Putri dan Putra Mahkota berada di tempat ini?” tanya saudagar itu keheranan.
Permaisuri menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya. Mendengar hal itu, sang saudagar segera mengajak mereka ke rumahnya dan membeli semua ikannya. Setibanya di rumah, saudagar ltu menyuruh istrinya segera memasak ikan tersebut. Ketika sedang memotong perut ikan, sang istri merasa heran karena dari perut ikan itu keluar telur ikan yang berupa emas murni. Kemudian, butiran emas tersebut dijual ke pasar oleh istri saudagar. Uangnya ia gunakan untuk membangun rumah permaisuri dan putranya. Sejak saat itu, permaisuri dan Amat Mude telah berubah menjadi orang kaya berkat telur-telur emas dari ikan.

Cerita tentang kekayaan permaisuri dan putranya sampai ke telinga Raja Muda.
Pada suatu hari, Raja Muda memanggil Amat Mude ke istana. la memerintahkan Amat Mude memetik kelapa gading untuk mengobati penyakit istri Raja Muda, di sebuah pulau yang terletak di tengah laut. Konon, lautan di sekitar pulau ltu dihuni oleh binatang-binatang buas. Siapa pun yang melewati lautan itu pasti celaka.

Raja Muda mengancam Amat Mude jika tidak berhasil, ia akan dihukum mati. TapiAmat Mude tak peduli dengan ancaman itu. Niatnya tulus hendak menolong istri Raja Muda. Ia pun segera berangkat meninggalkan istana.
Setibanya di pantai, ia duduk termenung. Tiba-tiba, muncul di hadapannya seekor ikan besar bernama Si lenggang Raye, didampingl oleh Raja Buaya, dan seekor Naga besar.

Singkat cerita, Amat Mude telah menemukan pohon kelapa gading dengan bantuan Silenggang Raye, Raja Buaya, dan seekor naga Selanjutnya, Amat Mude memanjat pohon. Ketika sedang memetik buah kelapa gading, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan.

“Siapa pun yang berhasil memetik buah kelapa gading, dia akan menjadi suamiku.” “Siapakah Engkau?” tanya Arnat Mude. “Aku Putri Niwer Gading,” jawabnya suara dari bawah pohon kelapa. Amat Mude cepat-cepat memetik kelapa gading. Setelah turun dari atas pohon kelapa. Alangkah takjubnya Amat Mude melihat kecantikan Putri Niwer Gading. Akhirnya, Amat Mude pun mengajak sang putri pulang ke rumahnya untuk dipersunting. Setelah menikah, Amat Mude beserta istri dan ibunya berangkat ke istana untuk menyerahkan buah kelapa gading.
Kedatangan Amat Mude membuat Raja Muda terheran-heran. Orang yang berhasil melewati rintangan di pulau angker pastilah orang sakti. la tidak mau main-main Iagi. Kini tidak alasan untuk menghukum mati keponakannya itu. Akhirnya Raja Muda sadar akan kesalahanya. la memohon maaf kepada Permaisuri dan Amat Mude. Beberapa hari kemudian Amat Mude dinobatkan menjadi Raja Negeri Alas.

Hikmah dari cerita tersebuat : Ketika datang musibah terjadi yang diperlukan kesabaran tidak mengeluh dengan bekerja keras & doa kita akan sampai pada perbaikan dalam kehidupan selanjutnya.

Friday, June 4, 2021

Batu Bagga - Sulawesi

Kabupaten Toli-toli, Sulawesi Tengah terkenal sebagai penghasil rempah-rempah berkualitas ini terdapat sebuah batu yang melegenda di kalangan masyarakat setempat. Konon batu tersebut merupakan jelmaan sebuah perahu bagga (perahu layar), sehingga di sebut batu bagga.
Pada zaman dahulu kala di Sulawesi Tengah, hiduplah seorang pria bernama Intobu. Seorang Ayah yang tinggal berdua bersama anak satu-satunya yang bernama Impalak. Mereka hidup serba kekurangan. Pekerjaan sehari-hari mereka adalah menjadi nelayan. Mereka pergi ke laut untuk menangkap ikan setiap malam hari, bahkan pada saat cuaca buruk tetap mencari Ikan.

Intobu selalu menasehati anaknya, “Menjadi nelayan adalah satu-satunya penghasilan kita. Jangan anggap cuaca buruk sebagai musuh kita.” Impalak mengangguk. “Ya, Ayah,” katanya.
Intobu dan Impalak bekerja sebagai nelayan selama bertahun-tahun. Namun berjalannya waktu Impalak mulai bosan dengan pekerjaan itu. Dia ingin mencoba sesuatu yang baru. Dia ingin membuat hidup lebih baik untuk ayahnya dan dirinya sendiri.

Suatu hari, Impalak mencoba berbicara dengan ayahnya tentang keinginannya.
“… Ayah, maafkan aku,” Impalak merasa ragu.
“Ada apa, Anakku?” Intobu penasaran melihat sikap anaknya yang aneh.
“Ayah, sebenarnya saya ingin berhenti bekerja sebagai nelayan. Saya ingin pergi ke luar negeri dan mencoba bekerja yang lain,” kata Impalak.
Intobu sedih mendengar keputusan putranya, tapi dia juga ingin Impalak sukses.
“Kalau itu keputusanmu, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mempersilakanmu pergi. Aku hanya bisa mendoakan keselamatan dan kesuksesanmu” ucap Intobu.
“Tapi aku ingin kamu selalu mengingat tanah airmu. Ingat desa dan ayahmu, yang sudah tua ini.” lanjutnya.
“Ya, Ayah. Aku akan selalu ingat. Terima kasih,” kata Impalak bersemangat.
Keesokan harinya, Impalak berangkat ke pelabuhan. Dia melihat Bagga (perahu layar) dan pergi menemui pemiliknya.

“Maaf, Tuan. Saya ingin tahu apakah saya boleh berlayar dengan Anda?” Tanya Impalak.
Pemilik Bagga terdiam sesaat.
“Ini bukan masalah bagiku. Tapi mengapa kamu ingin berlayar denganku, dan apakah kamu sudah meminta izin dari orang tuamu?” Tanya pemilik Bagga kemudian.
“Saya bekerja di sini sebagai nelayan dengan ayah saya, tetapi saya ingin mencoba peruntungan di luar negeri. Ayah saya setuju dengan rencana saya,” kata Impalak.
“Baiklah, aku akan berlayar besok. Temui aku di sini besok pagi. Ngomong-ngomong, siapa namamu?” Tanya pemilik bagga ini.
“Terima kasih Pak. Nama saya Impalak, Pak,” jawab Impalak senang.
Kembali ke rumahnya, Impalak memberi tahu ayahnya tentang pertemuannya dengan pemilik perahu Bagga.

“Kapan kau meninggalkan rumah nak ?” Intobu bertanya.
“Besok, Ayah,” jawab Impalak.
Selanjutnya pagi harinya, impalak pergi ke pelabuhan bersama ayahnya. Perahu Bagga sedang bersiap berlayar.

“Cepat, Impalak!” Pemilik Bagga berteriak.
Impalak mencium tangan ayahnya“
“Ayah saya pamit, mohon jaga diri ayah baik-baik,” kata Impalak.
“Pergilah, Nak. Aku memberkatimu,” kata Intobu.
Ada air mata berlinang di mata Intobu saat melihat Bagga meninggalkan pelabuhan.

Beberapa tahun berlalu. Setiap kali Intobu melihat perahu Bagga, dia selalu berharap anaknya akan kembali. Tetapi tidak ada kabar sama sekali dari Impalak.
Suatu hari, Intobu pergi memancing seperti biasa.
Dia menggunakan perahu kecil dan menuju ke perairan terbuka dekat pelabuhan. Pada saat itulah dia melihat Bagga menuju pelabuhan.
Ketika Bagga sudah mendekati sampan Intobu, dia melihat seorang pemuda tampan berdiri di dek depan Bagga ini. Pemuda itu ditemani oleh istrinya yang cantik. Intobu mengenali pemuda. Dia adalah Impalak putra kesayangannya.
“Impalak, Nak.” Teriak Intobu.
“Impalak! Impalak, anakku!” Intobu berteriak dengan semangat.
Impalak mendengar teriakan ayahnya, tapi dia mengabaikannya.
“Sayangnya, ada seseorang di sana yang memanggil namamu. Apa itu ayahmu?” Tanya istrinya.
“Bukan, dia bukan ayahku. Abaikan dia sayang” Impalak malu mengakui ayah tuanya di depan istrinya yang cantik.
Intobu mencoba mendayung perahunya lebih mendekat ke Bagga, tetapi tiba-tiba ada ombak besar di lautan.
Perahu Intobu dihantam ombak dan hampir tenggelam.
“Tolong … Bantu aku … Impalak, tolong …!” Intobu berteriak, meminta bantuan anaknya.
Tapi Impalak mengabaikan ayahnya. Dia bahkan mengubah Bagga menjadi berlawanan dengan arah perahu sampan Intobu.

Intobu sangat bersedih melihat Anak yang dia sayangi mengabaikannya seperti itu.
Kekecewaan bercampur dengan kesedihan dan kemarahan.
Dia melihat ke langit dan berdoa, “Oh, Tuhan, tolong dengarkan doaku. Jika memang dia benar Impalak anakku. Aku mengutuk Bagga anak pemberontak itu menjadi batu.”
Tidak lama setelah doa yang dipanjatkan oleh Intobu, badai datang dan melanda Impalak Bagga ini.
Angin bertiup sangat kencang, mendorong Bagga ke pantai.
Tiba-tiba, Bagga dan Impalak berubah menjadi batu. batu masih ada sampai sekarang. Orang menyebut Batu Bagga.

Pesan moral dari Legenda Batu Bagga (Cerita Rakyat Sulawesi Tengah) ini adalah hormati dan sayangi kedua orang tuamu. Kesuksesan dan kebahagiaanmu dimasa yang akan datang tergantung dari doa yang mereka panjatkan.

Wednesday, May 26, 2021

Ki Ageng Sela

Rikala zaman semono ing desa Sela, Ki Ageng Sela sing kondhang karo ajine yaiku bisa nakluke gludug. Ki Ageng Sela turunaning Majapahit sahingga dheweke isih termasuk anak-putu Brawijaya. Nadyan mangkono, dheweke ora gelem gantung uripe marang kaluwargane.

Ki Ageng Sela berasal dari Purwodadi tepatnya di daerah Tawangharo. Dia merupakan keturunan dari kerajaan Majapahit sehingga dia dapat dikatakan sebagai anak-putu Brawijaya. Walaupun dia merupakan keturunan kerajaan Majapahit, namun dia tidak mau bergantung. Dia ingin mencari jati dirinya sendiri.

Ki Ageng Sela nduweni jeneng luwih saka siji ing uripe. Sing kepisan nalika dheweke isih enom,jeneng Ki Ageng Sela yaiku Bagus Songgom. Banjur, dheweke nduweni jeneng Si Abdul Rahman. Dheweke dijenengi Si Abdul Rahman amarga dheweke dianggep sesepuh karo masyarakat. Jeneng Ki Ageng Sela dhewe diwenehi ning dheweke amarga dheweke nduweni akal sing apik utawa susila/Sela.

Ki Ageng Sela memiliki nama lebih dari satu selama hidupnya. Yang pertama ketika dia muda, Ki Ageng Sela bernama Bagus Songgom, yang kedua bernama Ri karena dia merupakan anak-putu trah majapahit, yang ketiga bernama Si Abdul Rahman karena dia dianggap sebagai sesepuh oleh masyarakat. Nama Ki Ageng Sela sendiri atau Ki Gede Sela diberikan kepadanya karena semasa hidupnya dia memiliki akal budi yang baik atau susila/Sela.

Kawit cilik, Ki Ageng Sela wis dadi wong tani sing ulet. Kebukti nalika dheweke ngolah sawah, dheweke bisa nandur cepet. 
Ki Ageng Sela merupakan seorang petani yang ulet, itu sudah terlihat ketika dia masih remaja. Terbukti, ketika dia bertani dia dapat mengolah tanahpun sangat cepat.

Selawase urip, Ki Ageng Sela cedhak banget marang Gusti Allah. Kebukti, nalika dheweke lagi nandur dheweke diganggu karo gludug. Ki Ageng Sela anyel amarga ngrasa keganggu karo gludug iku. Banjur, dheweke nantang gludug iku kanggo gelut. Dheweke njaluk gludug iku nduduhi wujud asline. Banjur, ana mbah-mbah kakung sing ngadheg ana ngarepe Ki Ageng Sela. Rupane, mbah kakung iku wujud saka gludug mau. Banjur, Ki Ageng Sela gelut karo mbah kakung iku. Akhire, Ki Ageng Sela bisa angalahke Mbah Kakung iku. Sakwise bisa ngalahke gludug iku, Ki Ageng Sela naleni gludug iku nganggo godhong jarak. Sakwise ditaleni, Ki Ageng Sela gawa gludug iku menyang omahe nganggo wit gandri.Nalika tekan omah, Ki Ageng Sela ndheleh gludug iku ing mburi omahe (sing saiki dadi makam Ki Ageng Sela).
Kabar Ki Ageng Sela sing bisa naleni lan gawa bali gludug iku krungu tekan Sunan Kalijaga. Banjur, Sunan Kalijaga ngangkon Ki Ageng Sela gawa gludug iku ning Demak. Dheweke ngangkon Ki Ageng Sela gawa gludug supaya Demak bisa keadoh saka mala.

Nalika krungu panjaluke Sunan Kalijaga, Ki Ageng Sela nrima panjaluke Sunan Kalijaga. Banjur, dheweke gawa dhewe percikane gludug iku sing sakdurunge wis ditaleni saka omah.

Nalika tekan alun-alunDemak. Rupane, tekane Ki Ageng Sela barengan karo wafate Patiunus (1521 SM). Banjur, Ki Ageng Sela menehi kurmat marang para Wali sing nalika iku ana ing alun-alun Demak. Sakwise mangkono, dheweke melu neruske pemakamane Patiunus (sing saiki dadi Ombor-ombor).

Nalika Ki Ageng Sela tekan Demak, Ki Ageng Sela nggambar naga ing ngarep masjid Demak tepate ana ing gerbang utama. Nalika dheweke durung bubaran nggambar, rupane ana mbah wadon sing gebyur gambar iku. Banjur, krungu swara gludug banter. Sahingga, gambar sing digambar Ki Ageng Sela iku ora rampung amarga mahluk-mahluk iku lunga dhewe.

Percikane gludug sing digawa Ki Ageng Sela iku digunakake nalika Grebeg Maulud. Tungku sing digunakake iku tungkune Joko Tarub. Banyu sing dienggo banyu saka sendhang lan sing masak iku Nawang Wulan. Saiki, Percikane gludug mau isih digunakake nalika ana event-event Mataram. Misale, Grebeg Maulud, Grebeg Sura,lsp.

Sunday, May 23, 2021

Mandin Tangkaramin Kalimantan Selatan

Di sebuah desa yang bernama Malinau di Kalimantan Selatan, hiduplah dua orang pemuda bernama Bujang Alai dan Bujang Kuratauan. Kedua pemuda itu selalu hidup bermusuhan karena sifat mereka yang sangat bertentangan. Bujang Alai merupakan putra seorang kaya dan berwajah tampan. Namun sayang kelebihannya itu membuatnya tumbuh menjadi pemuda yang angkuh. Sementara Bujang Kuratauan memiliki wajah yang biasa biasa saja dan berasal dari keluarga sederhana.
Kemanapun ia pergi, Bujang Alai senantiasa menyelipkan keris di pinggangnya. Pemuda itu selalu berusaha menunjukkan kepada semua orang siapa dirinya. Tak jarang ia berlaku sewenang wenang terhadap orang lain, utamanya warga kampungnya yang miskin. Sampai saat ini tak ada seorangpun yang berani melawannya karena mereka takut kepada ayah Bujang Alai.


Berbeda dengan Bujang Alai, Bujang Kuratauan merupakan sosok pemuda yang sopan dan hormat terhadap siapa saja. Pemikirannya yang cermerlang membuatnya disegani warga walaupun usianya masih muda. Bujang Kuratauan juga selalu membawa senjata berupa parang bungkul jika bepergian. Hal itu ia lakukan semata mata untuk membela diri. Beberapa kali Bujang Alai mencari gara gara supaya berkelahi dengannya.

Pada suatu ketika, Desa Malinau gempar. Sebuah keluarga kehilangan anak gadisnya yang tiba tiba lenyap begitu saja. Warga desa telah membantunya mencari ke seluruh pelosok kampung, bahkan sampai ke hutan, namun tak ada jejak sang gadis sedikitpun. Orang tua sang gadis yang mulai putus asa tak berhenti menangis.
Ditengah kegemparan yang melanda kampung Malinau, tiba tiba Bujang Alai berkata dengan lantangnya.

“Di rumahku ada seorang gadis yang kusembunyikan. Siapa saja boleh menjemput gadis itu setelah berhasil menahan mata kerisku”, suaranya terdengar pongah. Semua warga tak menyangsikan bahwa ucapannya itu ditujukan kepada Bujang Kuratauan.

“Apa maksudmu siapa saja boleh menjemput gadis itu ?’, tanya Bujang Kuratauan yang panas hati mendengar ucapan Bujang Alai. “Lepaskan gadis itu dan kembalikan pada orang tuanya”, teriaknya dengan suara keras. 
 
Bujang Alai tersenyum senang. Ia merasa pancingannya kali ini berhasil.
“Sebentar lagi orang ini akan menyerangku”, pikirnya. “Aku punya kesempatan untuk menghabisinya”. Bayangan kemenangan membuat senyum Bujang Alai semakin lebar.
“Kalau kau ingin membawa gadis itu kepada orang tuanya, hadapi aku dulu”, tantang Bujang Alai.

Pemuda itu segera mencabut kerisnya dan mengambil posisi siap menyerang. Bujang Kuratauan tak mampu menahan emosinya lagi. Segera saja ia mengeluarkan parang bungkul yang selalu dibawanya. Perkelahianpun tak terelakkan lagi.
Bujang Alai dan Bujang Kuratauan bertempur dengan sengit. Mereka saling menyerang. Kedua pemuda itu sama sama tangguh. Mereka berhasil menangkis setiap serangan yang dilancarkan lawan. Karena hari sudah petang, Bujang Alai menantang Bujang Kuratauan untuk melanjutkan pertarungan mereka esok pagi.
“Aku akan melayani dimana saja dan kapan saja kau hendak bertarung denganku”, jawab Bujang Kuratauan tegas. Ia sungguh tak dapat menerima tindakan Bujang Alai menyembunyikan anak gadis orang seenaknya
“Baik kalau begitu, esok pagi kutunggu kau di Mandin Tangkaramin”, ujarnya sambil berlalu.

Mandin Tangkaramin merupakan air terjun yang terletak tak jauh dari Desa Malinau. Air terjun itu tak terlalu tinggi dan dikelilingi hutan lebat. Dibawahnya terdapat banyak bongkahan batu besar dan kecil. Tak lama setelah fajar menyingsing, Bujang Alai dan Bujang Kuratauan telah tiba disitu.
Pertarungan segera dilanjutkan. Parang bungkul dan keris yang beradu menghasilkan bunyi berdentang dan percikan api. Bujang Alai dan Bujang Kuratauan mengeluarkan segenap keahlian yang mereka miliki. Setelah bertarung cukup lama, kedua pemuda terlihat mulai kelelahan.

Mungkin karena keinginannya untuk segera menghabisi lawannya, Bujang Alai mulai kehilangan kendali. Ia menyerang Bujang Kuratauan membabi buta. Kerisnya disabet tanpa henti sampai ia kehabisan tenaga. Satu saat pantulan sinar matahari dari kerisnya menyilaukan matanya. Bujang Alai sempat lengah. Pada saat itulah parang bungkul milik Bujang Kuratauan menghantam tubuhnya dengan keras. Tubuh Bujang Alai terhuyung dan tersungkur. Ia mati seketika.

Berita terbunuhnya Bujang Alai dalam pertarungan melawan Bujang Kuratauan segera menyebar di Desa Malinau dan sekitarnya. Keluarga Bujang Alai tak dapat menerima kematiannya. Ayahnya sangat terpukul mendapati putranya mati dengan tubuh lebam karena hantaman parang bungkul Bujang Kuratauan. Iapun berniat menuntut balas dengan berencana menyerang Bujang Kuratauan dan keluarganya.

Bujang Kuratauan bukan tak tahu keluarga Bujang Alai akan menuntut balas. Apalagi desas desus yang terdengar kalau rumahnya akan diserang semakin santer. Oleh karena itu Bujang Kuratauan dan ayahnya segera mengatur siasat.

Setelah beberapa hari menunggu, tibalah saat yang dinanti. Bujang Kuratauan dan keluarganya yang tak pernah tidur di rumah sejak kejadian itu segera menjalankan siasat mereka begitu mendengar suara ramai dari kejauhan. Seluruh anggota keluarga Bujang Kuratauan menyalakan obor dan berlari sambil memegangnya.
“Ayo cepat..”, teriak ayah Bujang Kuratauan yang memimpin di depan. Pengalamannya keluar masuk hutan membuatnya tahu persis arah yang dituju meski dalam kegelapan. Keluarga Bujang Alai terus berlari mengikuti obor yang dibawa keluarga Bujang Kuratauan. Rasa marah membuat mereka berlari kencang tanpa lelah.
“Sekaraaaangg…..”, teriak ayah Bujang Kuratauan. Seluruh anggota keluarga segera mengikutinya melempar obor yang mereka pegang. Keluarga Bujang Alai yang berlari mengejar obor tak melihat dimana mereka berada.
“Aaaaaaaaaa….…..”, terdengar teriakan keluarga Bujang Alai yang jatuh ke dasar sungai. Rupanya ayah Bujang Kuratauan dan keluarganya membuang obor mereka ke dasar sungai tempat jatuhnya air terjun Mandin Tangkaramin.
Tubuh seluruh anggota keluarga Bujang Alai dan para pengikutnya yang jatuh terhempas menghantam batu batu tajam di dasar sungai. Cucuran darah yang mengalir membuat batu batu disitu berwarna merah. Sampai kini masyarakat sekitar percaya bongkahan batu besar berwarna merah seperti kulit manggis yang masak merupakan batu yang terkena darah keluarga Bujang Alai. Mereka menyebutnya Manggu Masak.
Pesan moral dari cerita rakyat Kalimantan Selatan ini adalah jangan berlaku sombong dan sesuka hati. Orang yang jahat akan mendapat balasan dari kejahatannya.

Friday, May 21, 2021

Danau Kembar Sumatera Barat

Danau Kembar ini berada di Kawasan Danau Kembar yang letaknya ada di Kecamatan Lembang Jaya dan Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Jaraknya sekitar 60 kilometer dari pusat kota Padang atau sekitar 50 kilometer dari pusat kota Solok.

Ada sebuah cerita yang turun temurun di sampaikan mengenai Legenda terbentuknya Danau Kembar ini, berikut dibawah ini ceritanya

Di zaman dahulu kala ada seorang niniak (Orang yang Sudah Tua) yang bernama Niniak Gadang Bahan yang kerjanya adalah Maarik kayu (membuat papan/tonggak). Niniak ini sangat unik, badannya besar tinggi dan bahannya sebesar Nyiru. Bahan yang dimaksud di sini adalah beliungnya/kampak (alat untuk menebang kayu dan membuat papan). Nyiru adalah tempat menempis beras yang lebarnya kira-kira 50cmx80cm. Setiap berangkat ke hutan niniak ini tidak lupa membawa beliungnya.

Niniak ini makannya hanya sekali seminggu, tapi sekali makan 1 gantang. Untuk mendapatkan kayu/papan yang bagus dia harus naik gunung/hutan. Setelah beberapa hari dalam hutan dia akan pulang dengan membawa beberapa helai papan/tonggak yang telah jadi dan membawa ke pasar untuk di jual. Dari hasil penjualan papan/tonggak inilah dia menghidupkan keluarganya.

Pada suatu hari ketika niniak ini berangkat ke hutan, di tengah hutan tempat dia bisa lewat tertutup. Niniak ini kaget, kenapa ada makhluk yang menghambat jalannya. Makhluk ini sangat besar sehingga menutup pemandangannya. Niniak berusaha untuk mengusirnya tapi makhluk ini tidak bergeming, malah balik menyerang. Ternyata makhluk ini adalah seekor ular naga yang besar. Tidak bisa disangkal lagi darah pituah niniak moyang langsung mengalir ke seluruh tubuh niniak, katanya: “Lawan tidak di cari, kalau bertemu pantang mengelak”.

Terjadilah perkelahian antara naga dan niniak gadang bahan. Naga melakukan penyerangan, Niniak Gadang Bahan tidak tinggal diam. Seluruh kemampuan yang dimiliki oleh niniak gadang Bahan di keluarkan. Beliung yang berada di tangan Niniak gadang Bahan bereaksi, dan memang Niniak Gadang Bahan sangat ahli memainkannya, tentu jurus-jurus silat yang sudah mendarah mendaging oleh Niniak Gadang Bahan tak lupa dikeluarkan.


Akhirnya Naga betekuk lutut dan menyerah. Naga kehabisan darah karena sabetan beliaung Niniak Gadang Bahan. Kepala Naga Nyaris putus, darah mengalir dengan deras. Angku Niniak Gadang Bahan menarik naga itu dan melempar dengan sekuat tenaga dan sampai ke sebuah lembah.

Setelah berlangsung beberapa lama Angku Niniak Gadang Bahan mendatangi lembah tempat naga dilemparkan. Ternyata Niniak Gadang Bahan kaget, naga tersebut ternyata tidak mati, dia malah melambangkan badannya dengan posisi membentuk angka delapan, darah dari kepala ular tetap mengalir sehingga memerahkan daerah tersebut.

Sehingga daerah ini menjadi tempat kunjungan yang manarik bagi Angku, dan juga orang-orang yang ada di sekitar itu. Tapi apa yang terjadi, lama-lama badan ular ini mulai tertimbun oleh tanah, dan diantara dua lingkaran ular itu tergenanglah air yang membentuk dua danau kecil. Lama kelamaan danau ini terus semakin besar, sehingga terbentuklah dua bawah Danau yang besar dan indah.

Menurut cerita yang diterima itupulalah terbentuk dua nama daerah. Pertama adalah Lembah Gumanti, yang berasal dari kata “lembah nago nan mati” yaitu sekarang menjadi nama Kecamatan dari tempat kedua Danau ini. Kemudian ada juga yang mengartikan “Lembah Nago nan Sakti”. Yang kedua adalah sebuah daerah yang bernama “Aia Sirah” (Air Merah). Di daerah ini terkenal dengan airnya yang merah. Konon ceritanya penyebab dari air di daerah itu merah adalah darah yang terus keluar dari kepala naga, karena sampai sekarang Naga tersebut masih hidup dan masih mengeluarkan darah.

Tuesday, November 26, 2019

Alue Naga

Tutur cerita  nusantara yang berasal dari provinsi Riau, asal mula Alue Naga. 
Suatu hari Sultan Meurah mendapat khabar tentang keresahan rakyatnya di suatu tempat, lalu beliau mengunjungi tempat tersebut yaitu sebuah desa di pinggiran Kuta Raja untuk mengetahui lebih lanjut keluhan rakyatnya.
Tuanku banyak ternak kami raib saat berada di bukit Lamyong,” keluh seorang peternak. “Terkadang bukit itu menyebabkan gempa bumi sehingga sering terjadi longsor dan membahayakan orang yang kebetulan lewat dibawahnya,” tambah yang lainnya. “Sejak kapan kejadian itu?” Tanya Sultan Meurah. “Sudah lama Tuanku, menjelang Ayahanda Tuanku mangkat,” jelas yang lain.
Sesampai di istana Sultan memanggil sahabatnya Renggali, adik dari Raja Linge Mude. “Dari dulu aku heran dengan bukit di Lamnyong itu,” kata Sultan Meurah. “Mengapa ada bukit memanjang disana padahal disekitarnya rawa-rawa yang selalu berair,” sambung Sultan Meurah. “Menurut cerita orang tua, bukit itu tiba-tiba muncul pada suatu malam,” jelas Renggali, “abang hamba, Raja Linge Mude, curiga akan bukit itu saat pertama sekali ke Kuta Raja, seolah-olah bukit itu mamanggilnya,” tambahnya. “Cobalah engkau cari tahu ada apa sebenarnya dengan bukit itu!” Perintah Sultan.
Maka berangkatlah Renggali menuju bukit itu, dia menelusuri setiap jengkal dan sisi bukit tersebut, mulai dari pinggir laut di utara sampai ke kesisi selatan, “bukit yang aneh, “bisik Renggali dalam hati. Kemudian dia mendaki bagian yg lebih tinggi dan berdiri di atasnya, tiba-tiba dari bagian di bawah kakinya mengalir air yang hangat. Renggali kaget dan melompat kebawah sambil berguling.
“Maafkan hamba putra Raja Linge!” Tiba-tiba bukit yang tadi di pinjaknya bersuara. Renggali kaget dan segera bersiap-siap, “siapa engkau?” Teriaknya. Air yg mengalir semakin banyak dari bukit itu membasahi kakinya, “hamba naga sahabat ayahmu,” terdengar jawaban dari bukit itu dikuti suara gemuruh.

Renggali sangat kaget dan di perhatikan dengan seksama bukit itu yang berbentuk kepala ular raksasa walaupun di penuhi semak belukar dan pepohonan. “Engkaukah itu? Lalu di mana ayahku? Tanya Renggali. Air yang mengalir semakin banyak dan menggenangi kaki Renggali. “Panggilah Sultan Alam, hamba akan buat pengakuan!” Isak bukit tersebut. Maka buru-buru Renggali pergi dari tempat aneh tersebut. Sampai di istana hari sudah gelap, Renggali menceritakan kejadian aneh tersebut kepada Sultan.

“Itukah Naga Hijau yang menghilang bersama ayahmu?” Tanya Sultan Meurah penasaran. “Mengapa dia ingin menemui ayahku, apakah dia belum tahu Sultan sudah mangkat?” tambah Sultan Meurah. Maka berangkatlah mereka berdua ke bukit itu, sesampai disana tiba-tiba bukit itu bergemuruh. “Mengapa Sultan Alam tidak datang?” Suara dari bukit. “Beliau sudah lama mangkat, sudah lama sekali, mengapa keadaanmu seperti ini Naga Hijau? Kami mengira engkau telah kembali ke negeri mu, lalu dimana Raja Linge?” Tanya Sultan Meurah. Bukit itu begemuruh keras sehingga membuat ketakutan orang-orang tinggal dekat bukit itu.

“Hukumlah hamba Sultan Meurah,” pinta bukit itu. “Hamba sudah berkhianat, hamba pantas dihukum,” lanjutnya. “Hamba sudah mencuri dan menghabiskan kerbau putih hadiah dari Tuan Tapa untuk Sultan Alam yang diamanahkan kepada kami dan hamba sudah membunuh Raja Linge,” jelasnya. Tubuh Renggali bergetar mendengar penjelasan Naga Hijau, “bagaimana bisa kamu membunuh sahabatmu sendiri?” Tanya Renggali.
“Awalnya hamba diperintah oleh Sultan Alam untuk mengantar hadiah berupa pedang kepada sahabat-sahabatnya, semua sudah sampai hingga tinggal 2 bilah pedang untuk Raja Linge dan Tuan Tapa, maka hamba mengunjungi Raja Linge terlebih dahulu, beliau juga berniat ke tempat Tuan Tapa untuk mengambil obat istrinya, sesampai di sana Tuan Tapa menitipkan 6 ekor kerbau putih untuk Sultan Alam, kerbaunya besar dan gemuk.

Karena ada amanah dari Tuan Tapa maka Raja Linge memutuskan ikut mengantarkan ke Kuta Raja, karena itu kami kembali ke Linge untuk mengantar obat istrinya. Namun di sepanjang jalan hamba tergiur ingin menyantap daging kerbau putih tersebut maka hamba mencuri 2 ekor kerbau tersebut dan hamba menyantapnya, Raja Linge panik dan mencari pencurinya lalu hamba memfitnah Kule si raja harimau sebagai pencurinya, lalu Raja Linge membunuhnya.
Dalam perjalanan dari Linge ke Kuta Raja kami beristirahat di tepi sungai Peusangan dan terbit lagi selera hamba untuk melahap kerbau yang lezat itu, lalu hamba mencuri 2 ekor lagi, Raja Linge marah besar lalu hamba memfitnah Buya si raja buaya sebagai pencurinya maka dibunuhlah buaya itu. Saat akan masuk Kuta Raja, Raja Linge membersihkan diri dan bersalin pakaian ditepi sungai, lalu hamba mencuri 2 ekor kerbau dan menyantapnya tetapi kali ini Raja Linge mengetahuinya lalu kami bertengkar dan berkelahi, Raja Linge memiliki kesempatan membunuh hamba tetapi dia tidak melakukannya sehingga hambalah yang membunuhnya,” cerita naga sambil berurai air mata.

“Maafkanlah hamba, hukumlah hamba!” terdengar isak tangis sang naga. Mengapa engkau terjebak disini?” Tanya Sultan Meurah. “Raja Linge menusukkan pedangnya ke bagian tubuh hamba sehingga lumpuhlah tubuh hamba kemudian terjatuh dan menindihnya, sebuah pukulan Raja Linge ke tanah membuat tanah terbelah dan hamba tertimbun di sini bersamanya,” jelas sang naga.

“Hamba menerima keadaan ini, biarlah hamba mati dan terkubur bersama sahabat hamba,” pinta Naga Hijau. “Berilah dia hukuman Renggali, engkau dan abangmu lebih berhak menghukumnya,” kata Sultan Meurah. “Ayah hamba tidak ingin membunuhnya, apalagi hamba, hamba akan membebaskannya,” jawab Renggali. “Tidak! Hamba ingin di hukum sesuai dengan perbuatan hamba,” pinta Naga Hijau. “Kalau begitu bebaskanlah dia!” Perintah Sultan Meurah.
Maka berjalanlah mereka berdua mengelilingi tubuh naga untuk mencari pedang milik Raja Linge, setelah menemukannya, Renggali menarik dengan kuat dan terlepaslah pedang tersebut namun Naga Hijau tetap tidak mau bergerak. “Hukumlah hamba Sultan Meurah!” Pinta Naga Hijau. “Sudah cukup hukuman yang kamu terima dari Raja Linge, putranya sudah membebaskanmu, pergilah ke negerimu!” Perintah Sultan Meurah.

Sambil menangis naga tersebut menggeser tubuhnya dan perlahan menuju laut. Maka terbentuklah sebuah alur atau sungai kecil akibat pergerakan naga tersebut. Maka di kemudian hari daerah di pinggiran Kuta Raja itu disebut Alue Naga, disana terdapat sebuah sungai kecil yang disekitarnya di penuhi rawa-rawa yang selalu tergenang dari air mata penyesalan seekor naga yang telah mengkhianati sahabatnya.

Sunday, November 10, 2019

Putri Mandalika

Pada jaman dahulu terdapat sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Kerajaan tersebut sangatlah tentram dengan rakyat yang juga makmur. Suatu hari Raja dan Ratu di kerajaan tersebut melahirkan seorang anak yang berparas cantik dan diberi nama Putri Mandalika.
Putri Mandalika tumbuh menjadi seorang putri yang tak hanya berparas cantik tetapi juga berkepribadian baik. Ini ditunjukkan dengan sifatnya yang baik, sopan, bahasanya lembut dan ramah kepada semua orang. Karena kecantikannya membuat para pangeran di berbagai kerajaan dan para pemuda menjadi memperebutkan Putri Mandalika. Mereka diyakini telah terpikat akan kecantikan Putri Mandalika. Hingga kemudian banyak para pemuda dan para pangeran banyak yang melamar sang Putri. 

Karena banyak yang melamar Putri Mandalika, akhirnya sang Raja menyerahkan keputusan tersebut kepada sang Putri sendiri. Setelah itu, Putri Mandalika memutuskan bersemedi untuk mencari petunjuk dari apa yang terjadi. Sepulangnya bersemedi, Putri Mandalika mengundang seluruh pangeran dan pemuda pada tanggal ke 20 bulan ke 10 pada penanggalan sasak (masyarakat yang mendiami pulau Lombok disebut sebagai masyarakat suku sasak). Putri mengundang semuanya untuk berkumpul di pantai Seger (atau dikenal pantai kuta Lombok) pada waktu pagi buta.
Bau Nyale
Pada tanggal dan tempat yang telah diputuskan oleh Putri Mandalika, berkumpulah seluruh pangeran, pemuda dah bahkan rakyat kerajaan tersebut. Mereka terlihat memadati pantai Seger. Seketika matahari mulai terbit, Putri Mandalika beserta Raja, Ratu, dan para pengawalnya datang menemui seluruh undangan. Pada waktu itu Putri Mandalika terlihat sangat cantik dibalut dengan busana indah yang terbuat dari sutera. Putri Mandalika beserta pengawalnya naik ke atas bukit Seger dan mengucapkan beberapa patah kata yang ditujukkan oleh seluruh tamu undangan. Isi ungkapan Putri Mandalika kurang lebih berisi bahwa Putri Mandalika hanya ingin melihat ketentraman dan kedamaian di pulau Lombok tanpa adanya sedikitpun perpecahan didalamnya. Sang Putri menyadari jika ia menerima satu atau sebagian lamaran akan terjadi perpecahan atau perselisihan diantara mereka yang tidak ia terima. Untuk itu sang Putri berencana menerima semua lamaran yang ditujukan kepadanya. Serentak seluruh tamu undangan yang terdapat di pantai tersebut bingung dengan perkataan Putri Mandalika. Kemudian tiba-tiba sang Putri menjatuhkan dirinya ke dalam laut dan seketika hanyut di telan ombak. Para rakyat dengan sigap menceburkan diri ke laut untuk menyelamatkan Putri Mandalika. Tetapi sang Putri hilang tanpa ada tanda-tanda sedikitpun.Tak lama kemudian muncul binatang kecil-kecil yang yang sangat banyak dari laut. Binatang tersebut ternyata sebuah cacing panjang yang kemudian cacing tersebut diberi nama nyale dan dipercaya oleh masyarakat bahwa cacing tersebut merupakan jelmaan Putri Mandalika. Hingga dikemudian hari berkembang sebuah upacara adat Nyale yang menjadi tradisi masyarakat Lombok. Tradisi ini dilakukan setahun sekali pada sekitar bulan Februari – Maret.