Search This Blog

Monday, September 30, 2019

Cerita Banyuwangi


Pada Jaman Dahulu kala, ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Raja Banterang. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana. Suatu saat, Raja Banterang pergi berburu dengan beberapa pengawalnya. Tiba-tiba, ia melihat seekor kijang melesat melewatinya di dalam hutan. Raja Banterang mengejar kijang tersebut, sehingga terpisah dari para pengawalnya.
Di pinggir sebuah sungai, Raja berhenti. Ia sangat heran betapa cepatnya kijang itu lari. Tiba-tiba, seorang gadis cantik menghampirinya
"Siapakah kau? Apakah kau penunggu hutan ini?" tanya Raja Banterang.
"Namaku Surati, Paduka. Ayahku adalah raja dari Kerajaan Klungkung. Aku berada di sini karena melarikan diri dari kejaran musuh. Ayahku telah gugur dalam peperangan mempertahankan kerajaan," kata gadis itu.
Raja Baterang merasa iba. Ia pun memboyong gadis itu ke istana. Tidak lama kemudian, mereka menikah.
Suatu hari, ketika Raja Banterang sedang pergi berburu, seorang laki-laki berpakaian compang-camping mendatangi Surati. Laki-laki itu adalah kakak kandung Surati yang bernama Rupaksa.
"Surati, tahukah kau bahwa suamimu adalah orang yang membunuh ayah kita? Kita harus bekerja sama untuk membalas dendam," kata Rupaksa.
Surati menolak keinginan kakaknya, "Tidak Kak. Aku berutang budi kepada Raja Banterang. Ia telah menyelamatkanku. Aku tidak mau membantumu untuk membunuhnya."
Rupaksa terus memaksa adiknya, tetapi Surati tetap tidak mau melakukannya. Laki-laki itu sangat marah kepada adiknya. Sebelum pergi meninggalkan adiknya, ia melepaskan ikat kepalanya dan memberikannya kepada Surati.
"Simpanlah ini sebagai cinderamata dariku. Letakkanlah di bawah tempat tidurmu," kata Rupaksa.

Raja Banterang yang sedang berburu di dalam hutan tidak mengetahui kejadian tersebut. Di dalam hutan, ia bertemu dengan seorang laki-laki berpakaian compang-camping yang berjalan menghampirinya.
"Tuanku Raja Banterang. Paduka saat ini dalam bahaya. Ada yang sedang berencana membunuh Paduka, yaitu istri paduka dan orang suruhannya."
Raja Banterang sangat terkejut, "Apa buktinya kalau istriku mengkhianatiku?"
Sekarang kembalilah Paduka ke istana. Carilah sebuah ikat kepala yang letaknya di bawah ranjang istri Paduka. Itu adalah milik laki-laki suruhan istri Paduka yang diminta untuk membunuh Paduka."
Semula, Raja Banterang tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Sesampainya di istana, ia mencari-cari ikat kepala yang dikatakan orang tersebut.

Ternyata benar, ia menemukan sehelai ikat kepala di bawah tempat tidur Surati. Raja Banterang marah bukan main kepada istrinya.
"Ternyata benar kata laki-laki itu! Kau sedang berencana untuk membunuhku! Ini buktinya!" kata Raja Baterang pada istrinya.
"Kanda, aku tidak mengerti apa maksudmu?"
Raja Baterang menceritakan bagaimana seorang laki-laki berpakaian kumal dan compang-camping menemuinya di hutan. Surati mengatakan bahwa itu adalah kakaknya yang bernama Rupaksa. Ia menceritakan apa yang diinginkan Rupaksa kepada suaminya. Namun, Raja Banterang tidak memercayainya.
"Kanda, aku tidak pernah berniat berkhianat. Aku rela berkorban apa pun untuk keselamatanmu. Tolong percaya kepadaku!" ujar Surat'.

Raja Banterang sudah tersulut emosinya. Ia tetap tak memercayai istrinya. Surati berlari ke tepi air terjun dan Raja Banterang mengikutinya.
"Kanda, di bawah jurang ini mengalir sungai. Aku akan menyeburkan diri ke air terjun itu. Jika air sungai menjadi jernih dan berbau wangi, berarti aku tidak bersalah! Namun, jika air sungai ini berubah menjadi keruh dan berbau busuk, berarti aku bersalah!"
Surati lalu menyeburkan diri ke dalam air terjun itu. Tak lama kemudian air sungai terlihat jernih dan mengeluarkan bau yang sangat harum. Melihat hal itu Raja Banterang segera menyadari bahwa istrinya tidak bersalah.
"Maafkan aku istriku. Ternyata kau tidak bersalah," kata Raja Banterang. Namun, ia tidak pernah menemukan istrinya. Surati menghilang secara tiba-tiba. Ia sangat menyesal. Namun, penyesalannya tidak berarti lagi.
Sejak saat itu, tempat tersebut disebut dengan Banyuwangi. Dalam bahasa Jawa, "banyu" berarti "air" dan "wangi" berarti harum.
Pesan moral dari cerita rakyat asal usul Banyuwangi : Dongeng Jatim adalah jangan mudah berprasangka buruk terhadap orang lain, sebelum mengetanui kebenarannya.

1        2        3        4        5        6        7        8        9        10...

Danau Toba

Pada zaman dahulu di suatu desa di Sumatera Utara hiduplah seorang petani bernama Toba yang menyendiri di sebuah lembah yang landai dan subur. Petani itu mengerjakan lahan pertaniannya untuk keperluan hidupnya.

Selain mengerjakan ladangnya, kadang-kadang lelaki itu pergi memancing ke sungai yang berada tak jauh dari rumahnya. Setiap kali dia memancing, mudah saja ikan didapatnya karena di sungai yang jernih itu memang banyak sekali ikan. Ikan hasil pancingannya dia masak untuk dimakan.Pada suatu sore, setelah pulang dari ladang lelaki itu langsung pergi ke sungai untuk memancing. Tetapi sudah cukup lama ia memancing tak seekor iakan pun didapatnya. Kejadian yang seperti itu,tidak pernah dialami sebelumnya. Sebab biasanya ikan di sungai itu mudah saja dia pancing. Karena sudah terlalu lama tak ada yang memakan umpan pancingnya, dia jadi kesal dan memutuskan untuk berhenti saja memancing. Tetapi ketika dia hendak menarik pancingnya, tiba-tiba pancing itu disambar ikan yang langsung menarik pancing itu jauh ketengah sungai. Hatinya yang tadi sudah kesal berubah menjadi gembira, Karena dia tahu bahwa ikan yang menyambar pancingnya itu adalah ikan yang besar.

Setelah beberapa lama dia biarkan pancingnya ditarik ke sana kemari, barulah pancing itu disentakkannya, dan tampaklah seekor ikan besar tergantung dan menggelepar-gelepar di ujung tali pancingnya. Dengan cepat ikan itu ditariknya ke darat supaya tidak lepas. Sambil tersenyum gembira mata pancingnya dia lepas dari mulut ikan itu. Pada saat dia sedang melepaskan mata pancing itu, ikan tersebut memandangnya dengan penuh arti. Kemudian, setelah ikan itu diletakkannya ke satu tempat dia pun masuk ke dalam sungai untuk mandi. Perasaannya gembira sekali karena belum pernah dia mendapat ikan sebesar itu. Dia tersenyum sambil membayangkan betapa enaknya nanti daging ikan itu kalau sudah dipanggang. Ketika meninggalkan sungai untuk pulang kerumahnya hari sudah mulai senja.Pada saat lelaki itu tiba di dapur, dia terkejut sekali karena ikan besar itu sudah tidak ada lagi. Tetapi di tempat ikan itu tadi diletakkan tampak terhampar beberapa keping uang emas. Karena terkejut dan heran mengalami keadaan yang aneh itu, dia meninggalkan dapur dan masuk kekamar.

Ketika lelaki itu membuka pintu kamar, tiba-tiba darahnya tersirap karena didalam kamar itu berdiri seorang perempuan dengan rambut yang panjang terurai. Perempuan itu sedang menyisir rambutnya sambil berdiri menghadap cermin yang tergantung pada dinding kamar. Sesaat kemudian perempuan itu tiba-tiba membalikkan badannya dan memandang lelaki itu yang tegak kebingungan di mulut pintu kamar. Lelaki itu menjadi sangat terpesona karena wajah perempuan yang berdiri dihadapannya luar biasa cantiknya. Dia belum pernah melihat wanita secantik itu meskipun dahulu dia sudah jauh mengembara ke berbagai negeri.

Karena hari sudah malam, perempuan itu minta agar lampu dinyalakan. Setelah lelaki itu menyalakan lampu, dia diajak perempuan itu menemaninya kedapur karena dia hendak memasak nasi untuk mereka. Sambil menunggu nasi masak, diceritakan oleh perempuan itu bahwa dia adalah penjelmaan dari ikan besar yang tadi didapat lelaki itu ketika memancing di sungai. Kemudian dijelaskannya pula bahwa beberapa keping uang emas yang terletak di dapur itu adalah penjelmaan sisiknya. Setelah beberapa minggu perempuan itu menyatakan bersedia menerima lamarannya dengan syarat lelaki itu harus bersumpah bahwa seumur hidupnya dia tidak akan pernah mengungkit asal usul istrinya myang menjelma dari ikan. Setelah lelaki itu bersumpah demikian, kawinlah mereka.
Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Samosir. Anak itu sngat dimanjakan ibunya yang mengakibatkan anak itu bertabiat kurang baik dan pemalas.Setelah cukup besar, anak itu disuruh ibunya mengantar nasi setiap hari untuk ayahnya yang bekerja di ladang. Namun, sering dia menolak mengerjakan tugas itu sehingga terpaksa ibunya yang mengantarkan nasi ke ladang.
Suatu hari, anak itu disuruh ibunya lagi mengantarkan nasi ke ladang untuk ayahnya. Mulanya dia menolak. Akan tetapi, karena terus dipaksa ibunya, dengan kesl pergilah ia mengantarkan nasi itu. Di tengah jalan, sebagian besar nasi dan lauk pauknya dia makan. Setibanya diladang, sisa nasi itu yang hanya tinggal sedikit dia berikan kepada ayahnya. Saat menerimanya, si ayah sudah merasa sangat lapar karena nasinya terlambat sekali diantarkan. Oleh karena itu, maka si ayah jadi sangat marah ketika melihat nasi yang diberikan kepadanya adalah sisa-sisa. Amarahnya makin bertambah ketika anaknya mengaku bahwa dia yang memakan sebagian besar dari nasinya itu. Kesabaran si ayah jadi hilang dan dia pukul anaknya sambil mengatakan: “Anak kurang ajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal dari ikan!”

Sambil menangis, anak itu berlari pulang menemui ibunya di rumah. Kepada ibunya dia mengadukan bahwa dia dipukuli ayahnya. Semua kata-kata cercaan yang diucapkan ayahnya kepadanya di ceritakan pula. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu. Si ibu menyuruh anaknya agar segera pergi mendaki bukit yang terletak tidak begitu jauh dari rumah mereka dan memanjat pohon kayu tertinggi yang terdapat di puncak bukit itu. Tanpa bertanya lagi, si anak segera melakukan perintah ibunya itu. Dia berlari-lari menuju ke bukit tersebut dan mendakinya.Ketika tampak oleh sang ibu anaknya sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yang dipanjatnya di atas bukit , dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh letaknya dari rumah mereka itu. Ketika dia tiba di tepi sungai itu kilat menyambar disertai bunyi guruh yang megelegar. Sesaat kemudian dia melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama, sungai itu pun banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Beberapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap kemana-mana dan tergenanglah lembah tempat sungai itu mengalir. Pak Toba tak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. Lama-kelamaan, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar yang di kemudian hari dinamakan orang Danau Toba. Sedang Pulau kecil di tengah-tengahnya diberi nama Pulau Samosir.


Pulau di Tengah Danau Toba.Di tengah Danau Toba, terdapat lima pulau yang membuat pemandangan alamnya semakin indah. Pulau-pulau tersebut muncul akibat Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar. Lima pulau tersebut adalah:
1. Pulau Samosir
Pulau Samosir adalah pulau tengah danau terbesar ke lima di Dunia. Ketinggian pulau ini kurang lebih 1.000 meter di atas permukaan laut. Konon, pulau ini dulunya menyatu dengan pulau Sumatera dan berbentuk seperti sebuah tanjung di Danau Toba. Kemudain pada masa penjajahan Belanda dibangunlah kanal sungai sehingga memutuskan dataran Samosir dengan dataran Sumatera. Akhirnya Samosir menjadi pulau sendiri.
Pulau Samosir ini sudah berabad-abad dihuni oleh manusia dari suku batak. Di Pulau Samosir dan tepi danau Toba inilah mereka mengembangkan budayanya serta mengembangkan keturunan mereka menjadi lima kelompok kesukuan Batak, yakni Pakpak-Dairi, Angkola-Mandailing, Simalungun, Karo, dan Toba.
Saat ini, pulau Samosir masuk ke dalam wilayah Kabupaten Samosir yang baru dimekarkan pada tahun 2003 dari bekas Kabupaten Toba-Samosir. Di pulau Samosir sendiri terdapat enam kecamatan dari sembilan kecamatan yang masuk ke dalam Kabupaten Samosir.
2. Pulau Tao
Nama lain dari pulau Tao adalah pulau Malau. Pulau ini berukuran kecil, panjangnya hanya sekitar 1 kilometer dan berada di sebelah Timur pulau Samosir. Pulau Tao atau Malau termasuk ke dalam wilayah kecamatan Simanindo. Di pulau ini dulunya terdapat sebuah hotel dan restoran, namun karena pulau ini jarang dikunjungi wisatawan, akhirnya hotel ini ditutup. Hanya restorannya yang sampai ini masih aktif beroperasi. Dari pulau ini, para wisatawan dapat melihat dengan jelas pemandangan bukit barisan serta keutuhan pulau Samosir.
3. Pulau Sibandang
Pulau Sibanding adalah pulau terbesar kedua di Danau Toba dan terletak di Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara. Ketinggiannya mencapai 1173 meter di atas permukaan laut. Bibir pantai pulau ini terbentuk dari batuan yang tersusun rapi secara alami sehingga menambah indah pesona alamnya.
Pulau Sibanding dikenal juga dengan pulau mangga karena menjadi salah satu pusat penghasil buah mangga yang memiliki rasa manis. Pulau Sibandang ini dihuni oleh sekitar 800 kepala keluarga yang terdiri empat marga yaitu marga Simare-mare, marga Siregar, marga Oppusunggu dan marga Rajagukguk. Selain mangga, sumber penghasilan masyarakat ini berasal dari tangkapan laut yang berupa ikan Mujair, ikan pora-pora dan ikan lainnya.
4. Pulau Tulas
Secara administratif, Pulau Tulas berada di Kecamatan Sianjur Mulamula Kabupaten Samosir. Letaknya tepat di titik koordinat 980 38’ 43” Bujur Timur dan 020 38’ 37” Lintang Utara. Pulau ini disebut-sebut masih perawan karena belum tersentuh oleh manusia. Keseluruhan pulau ini diselimuti oleh hamparan warna hijau karena hanya ditumbuhi semak belukar dan beberapa jenis hewan.
5. Pulau Tolping
Pulau Tolping berada di ujung Danau Toba, tepatnya di desa Silalahi kab. Dairi. Menurut informasi yang beredar, kedalaman Danau Toba hanya bisa diukur di kawasan Silalahi ini. Sama seperti pulau Sibandang, Pulau Toping yang berukuran kecil ini dikelilingi bebatuan kecil yang tersusun rapi secara alami, sehingga menambah indah pesona alamnya.
Dari kelima pulau tersebut, pulau yang paling terkenal dan paling sering dikunjungi oleh para wisatawan adalah pulau Samosir.

1        2        3        4        5        6        7        8        9        10...

Monday, September 16, 2019

Aji Saka

Menurut perjalanan sejarahnya, aksara Jawa dan beberapa aksara nusantara lainnya sebenarnya merupakan turunan dari aksara Pallawa yang digunakan sekitar abad ke-4 Masehi. Lalu seiring perkembangan zaman pula, aksara Hanacaraka mengalami beragam perubahan bentuk dan komposisi hingga seperti yang kita kenal sampai saat ini.
Aksara Jawa yang sering disebut dengan "Hanacaraka" merupakan aksara jenis abugida turunan dari aksara Brahmi. Dari segi bentuknya, aksara "Hanacaraka" punya kemiripan dengan aksara Sunda dan Bali. Untuk aksara Jawa sendiri merupakan varian modern dari aksara Kawi, salah satu aksara Brahmi hasil perkembangan aksara Pallawa yang berkembang di Jawa. Pada masa berjayanya kerajaan-kerajaan Islam, tepatnya dari zaman Kesultanan Demak hingga Pajang, teks dari masa tersebut diwakili dengan serat Suluk Wijil dan Serat Ajisaka. Pada masa itu diperkenalkan urutan pangram Hanacaraka untuk memudahkan pengikatan 20 konsonan yang digunakan dalam bahasa Jawa. Urutan tersebut terdiri dari 4 baris dengan tiap baros terdiri dari 5 aksara yang menyerupai puisi. Namun, ada pula cerita asal-usul aksara Hanacaraka menurut cerita legenda yang kita kenal dengan kisah Ajisaka.


Konon, menurut legenda, aksara Hanacaraka terlahir dari cerita pemuda sakti bernama Ajisaka yang pergi mengembara ke Kerajaan Medhangkamulan. Kerajaan tersebut memiliki seorang raja bernama Dewata Cengkar yang amat rakus dan senang memakan daging manusia. Rakyatnya banyak yang ketakutan dengan kebiasaan rajanya tersebut. Demi menghentikan kebiasaan sang raja, Ajisaka pun bertolak kesana. Ajisaka memiliki dua orang abdi yang sangat setia bernama Dora dan Sembada. Suatu ketika, Ajisaka pergi mengembara ke Kerajaan Medhangkamulan dan mengajak Dora untuk menemaninya. Sementara itu, Sembada diperintah untuk tetap tinggal di Pulau Majethi karena harus menjaga keris pusaka milik Ajisaka agar tidak jatuh ke tangan orang lain selain dirinya.
Sesampainya di Kerajaan Medhangkamulan, Ajisaka segera menghadap Prabu Dewata Cengkar untuk meminta sebidang tanah seukuran kain surban kepalanya. Permintaannya ini adalah sebagai syarat bahwa Ajisaka bersedia menjadi santapan sang Raja asalkan ia mendapatkan tanah yang ia mau. Akhirnya, Prabu Dewata Cengkat mengamini permohonan Ajisaka. Ia mengukur tanah menggunakan kain surban Ajisaka, namun tak disangka kain surban tersebut semakin lama semakin meluas hingga membuat Prabu Dewata Cengkar mundur dan terus mundur sampai mendekati jurang pantai selatan.
Sayang sekali Prabu Dewata Cengkar tidak dapat menyelamatkan diri dan mati terjatuh dari jurang. Sejak saat itu Ajisaka diangkat menjadi raja di Kerajaan Medhangkamulan.

Lantas Ajisaka teringat dengan pusakanya yang ditinggal di Pulau Majethi. Ia pun mengutus Dora untuk mengambilnya dari Sembada. Sesampainya di Pulau Majethi, Dora segera meminta pusaka Ajisaka yang dijaga oleh Sembada, namun rekannya itu tidak mau memberikan pusaka tersebut karena teringat dengan perintah Ajisaka. Sementara itu, Dora juga bersikukuh bahwa apa yang dilakukannya adalah perintah dari Ajisaka. Merekapun berdebat dan bergelut. Sayang sekali, keduanya akhirnya tewas.
Mendengar kedua abdinya tewas, Ajisaka pun menyesali apa yang telah dilakukannya. Lantas untuk mengenang, ia melantunkan pantun Hanacaraka yang penuh makna:


Ha Na Ca Ra Ka / Da Ta Sa Wa La / Pa Dha Ja Ya Nya / Ma Ga Ba Tha Nga


Makna filosofis aksara Hanacaraka
Dari kisah-kisah tersebut, kita bisa menarik simpulan bahwa aksara Hanacaraka memiliki makna filosofi yang bijaksana. Makna filosofis tersebut bisa dipaparkan seperti di bawah ini: 

Ha-Na-Ca-Ra-Ka artinya adalah ”utusan” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasad manusia. Hal ini menunjukkan adanya pencipta (Tuhan), ciptaan (manusia), dan tugas yang diberikan Tuhan kepada manusia. 

Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan "data" atau saatnya dipanggil tidak boleh "sawala" atau mengelak. Dalam hidup ini manusia harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan. 
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya menunjukkan menyatunya zat pemberi hidup (Ilahi) dengan yang diberi hidup (makhluk). Makna filosofisnya, setiap batin manusia pasti sesuai dengan apa yang diperbuatnya. 
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan . Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.

1        2        3        4        5        6        7        8        9        10...

Sunday, September 15, 2019

Baturraden

Baturraden terletak di sebelah utara kota Purwokerto tepat di lereng sebelah selatan Gunung Slamet. Baturraden karena letaknya di lereng gunung menjadikan kawasan ini memiliki hawa yang sejuk dan cenderung sangat dingin terutama di malam hari. Baturraden juga merupakan daerah wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal, terutama pada hari minggu dan hari libur nasional. Kondisi tersebut menyebabkan banyak hotel dan vila didirikan di sini .
Batu Raden merupakan cerita rakyat dari Jawa Tengah yang cukup populer. Salah satu dari kekayaan seni Indonesia adalah cerita rakyat Indonesia yang begitu beragam dari tiap daerah. Berikut adalah kisah Batu Raden, salah satu cerita rakyat dari Jawa Tengah.Baturraden adalah keindahan yang memancar dari lereng Gunung Slamet. Lokasi wisata yang berjarak hanya sekitar 15 km dari kota Purwokerto, Jawa Tengah ini, tak hanya menyimpan panorama alam yang molek, tetapi juga cerita rakyat tentang BATUR RADEN.

BATURRADEN
Pada zaman sebelum kerjaaan Majapahit berdiri, hiduplah seorang pemuda bernama Suta, Ia adalah seorang abdi kadipaten yang baik hati. Pekerjaannya sebagai abdi adalah mengerjakan pekerjaan kasar di kadipaten. Selain itu Suta juga bertugas menjaga keamanan wilayah kadipaten dari orang-orang jahat.
Pada suatu hari Suta sedang berjalan-jalan memeriksa sudut-sudut wilayah kadipaten, kemudian dia mendengar suara perempuan sedang menjerit-jerit ketakutan. Suta segera bergegas berlari ke arah sumber suara. Setelah mencari sumber suara tersebut Suta berhenti di sebuah pohon yang besar. Di salah satu dahan pohon ternyata ada seekor ular besar dan didekatnya ada putri adipati yang ketakutan melihat ular tersebut.
Sebenarnya Suta juga merasa takut melihat ular sebesar itu. Namun karena kesetiaannya mengabdikan diri pada adipati Suta berusaha menyingkirkan rasa takutnya. Suta berusaha menolong putri adipati. Kemudian Suta mengambil sebatang kayu besar dan di pukulkan kearah ulat besar itu.
Setelah di pukul beberapa kali akhirnya ular itu roboh ke tanah dan tidak bergerak lagi. Ular itu mati di tangan Suta. Melihat kejadian itu putri adipati merasa senang dan mengucapkan banyak terima kasih pada Suta yang telah menolongnya. Keberanian Suta membuat putri adipati menjadi kagum dan menyukainya.

Setelah kejadian itu mereka menjadi akrab dan sering bertemu. Dari seringnya mereka bertemu telah menumbuhkan bibit cinta di antar keduanya. Mereka saling mencintai walaupun perbedaan derajat kala itu tidak membolehkan seorang abdi mencintai putri. Kanjeng adipati yang mendengar berita bahwa putrinya menyukai Suta menjadi murka. Adipati merasa malu jika putri yang di sayanginya menikah dengan seorang abdi kadipaten yang miskin. Adipati lalu memerintahkan putrinya untuk menjauhi Suta dan tidak boleh ada hubungan di antar keduanya.
Putri adipati menjadi sedih karena dilarang bertemu dengan Suta. Setelah itu tersiar kabar yang lebih memprihatinkan. Dari seorang abdi kepercayaan putri mendengar bahwa Suta di masukkan dalam penjara bawah tanah oleh kanjeng adipati. Tidak hanya itu, selama di penjara Suta tidak di beri makan dan minum. Penjara itu sendiri di genangi air sehingga membuat Suta demam tinggi karena dinginnya genangan air tersebut. Mendengar berita itu putri adipati tidak tahan lagi. Dia berusaha untuk menolong Suta karena bukan hanya karena putri mencintainya namun ketika dulu putri pernah berhutang nyawa pada Suta saat dirinya di selamatkan Suta dari ular besar.
Putri Adipati lalu menemui abdi kepercayaan dan memaksanya untuk mengeluarkan Suta dari dalam penjara bawah tanah. Abdi kepercayaan itu lalu menyusup ke dalam penjara dan bertemu Suta yang sedang terserang demam tinggi. Lalu abdi kepercayaan membawa Suta keluar dari penjara tersebut secara diam-diam. Dia mengatakan bahwa putri adipati yang telah menolongnya dan saat ini putri sedang menunggu di halaman kadipaten. Setelah berhasil keluar dari penjara, putri dan Suta melarikan diri keluar kadipaten.
Mereka lalu menikah dan tinggal di sebuah desa kecil. Kini desa itu disebut desa Baturaden asal kata dari Batur yang artinya abdi dan keturunan raden yang menunjukkan keturunan adipati.
Lokasi wisata
Pancuran Pitu Baturraden
Pemandian air panas yang yang mengandung belerang. Dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Terletak di sebelah atas Pancuran Telu.

Pancuran Telu 
Pemandian air panas yang yang mengandung belerang. Dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Terletak di sebelah bawah Pancuran Pitu. 
Bumi Perkemahan 
Merupakan camping ground yang sering dimanfaatkan oleh para pecinta alam dan penikmat kegiatan out bond. Pernah digunkan sebagai tempat penyelenggaraan Jambore Nasional Gerakan Pramuka se-Indonesia pada tahun 2001. 
Kaloka Widya Mandala 
Taman Kaloka Widya Mandala Baturraden atau Wisata Pendidikan Wanasuka Baturraden merupakan kebun binatang sekaligus sebagai tempat wisata edukasi yang diresmikan oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Banyumas H. Djoko Sudantoko pada tanggal 17 mei 1995. Tempat ini pernah mendapatkan prestasi sebagai Visit Indonesia Dekade 1991-2000dalam Penobatan Anugerah Wisata Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta di Semarang pada tanggal 23 Agustus1996.
Di Taman Kaloka Widya Mandala Baturraden terdapat berbagai macam binatang yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri seperti dari Australia, Asia dan Belanda. Koleksinya meliputi: Sapi kaki lima, Kambing kaki tiga, Gajah, Beruk (Buing), Buaya Irian, Ular Sanca, Kaswari, Monyet, Landak, Iguana, Cendrawasih, Kelelawar, Ayam Kate, Ayam Mutiara, Orang Utan,Elang Bondol, Rusa. Di tempat ini juga terdapat Museum Satwa Langka, seperti: Harimau Sumatera, Beruang Madu, danMacan Dahan. 
Pemandian Air Panas 
Curug Ceheng 
Wahana Wista Lembah Combong 
Combong Valley Paint Ball and War Games 
Telaga Sunyi 
Dari Baturaden, Anda dapat melihat pemandangan Kota Purwokerto, Pulau Nusa Kambangan, juga beberapa pantai indah di daerah Cilacap. Baturaden sendiri memiliki banyak objek wisata yang menarik dikunjungi seperti Taman Bitanin yang memiliki beragam tanaman dan bunga langka, di antaranya bunga havana, daun dewa, antarium lipstick, palem paris, dan widoro laut yang tak hanya dipamerkan, juga dijual sebagai souvenir.
Kemudian juga ada Curug Gede, sebuah air terjun cantik di Desa Ketenger yang terletak 3 km dari pusat Baturaden. Tidak jauh dari situ juga ada sebuah pemandian air panas, Pancuran Pitu yang bersuhu sekira 60 hingga 70 derajat Celsius.
Selain pemandian air panas, Baturaden juga memiliki pemandian yang dipercaya menyembuhkan berbagai penyakit, yaitu Pancuran Telu. Baturaden pun memiliki kolam sumber air murni, Telaga Sunyi.
Baturaden ternyata turut dibuka untuk lokasi perkemahan. Bagi pengunjung yang ingin bermalam di Baturaden, Anda dapat mendirikan tenda di Wana Wisata, sebuah hutan hijau yang berjarak 2 km dari Baturaden dan sangat pas untuk berkemah bersama keluarga.
Wisata keluarga di Baturaden akan bertambah menyenangkan apabila berkunjung ke Taman Kaloka Widya Mandala, sebuah kebun binatang dan museum yang menyimpan kerangka-kerangka fauna khas Indonesia.
Tidak hanya wisata alam, Baturaden juga menyediakan beragam wisata kebudayaan seperti grebeg syura yang diadakan setiap bulan pertama dalam kalender tahun Islam, pertunjukan musik calung, dan tari tradisional lengger, pertunjukan bernuansa mistis yakni kuda lumping, serta sadranan sebagai upacara mengunjungi situs suci, biasanya kuburan yang juga disebut kenduren oleh masyarakat sekitar.

1        2        3        4        5        6        7        8        9        10...

Wednesday, September 11, 2019

Legenda Prasasti Munjul

Prasasti Munjul berhuruf Palawa dan berbahasa Sanskerta, dipahat pada sebuah batu andesit yang berukuran panjang 3,2 m dan lebar 2,25m. Prasasti Munjul ditulis menggunakan teknik tatah dengan kedalaman gores kurang dari 0,5 cm, sehingga antara permukaan batu asli dengan tulisan hampir sama.
Prasasti dengan bahasa Sansekerta tersebut ditulis oleh raja ketiga Kerajaan Tarumanegara, Raja Purnawarman (395-434 M.). Menurut cerita, Purnawarman menulis prasasti itu untuk mengabadikan sebuah peristiwa besar yang terjadi di daerah Munjul. Peristiwa apakah itu? Temukan jawabannya dalam cerita Legenda Prasasti Munjul berikut ini :

Dahulu, perairan Ujung Kulon di sekitar Selat Sunda dikuasai oleh para bajak laut yang menjadi ancaman bagi para nelayan di daerah itu. Kaum perompak itu sering merampas ikan hasil tangkapan para nelayan. Pada masa pemerintahan Raja Purnawarman, terdapat suatu gerombolan bajak laut yang beranggotakan 80 orang. Kelompok bajak laut yang sering beraksi di perairan wilayah Kerajaan Tarumanegara itu dipimpin oleh seorang yang sakti, ia bisa berubah wujud sesuai kehendaknya. Pada suatu hari, gerombolan bajak laut itu sedang merampok perahu yang ditumpangi oleh tiga orang nelayan. Namun, baru saja para perompak itu memindahkan ikan hasil rampasan ke kapal mereka, tiba-tiba dari kejauhan terlihat sebuah kapal besar berbendera naga sedang menuju ke arah mereka. Kapal besar itu ternyata adalah kapal milik Kerajaan Tarumanegara. Pemimpin bajak laut justru merasa senang karena akan memperoleh harta rampasan yang banyak. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera memerintahkan anak buahnya untuk menyerang kapal kerajaan itu.
Terjadilah pertempuran sengit antara pasukan kerajaan yang ada di dalam kapal dengan bajak laut. Pasukan kerajaan dipimpin oleh seorang menteri dengan dibantu oleh seorang laksamana. Dalam pertempuran itu, kubu bajak laut ternyata lebih kuat daripada pasukan kerajaan. Menteri, laksamana, dan sejumlah awak kapal kerajaan tewas, dan mayat-mayat mereka dilemparkan ke tengah laut. Semua harta benda yang ada di kapal pun dikuras habis oleh para begundal itu. Seminggu berselang, terlihat dua nelayan sedang memancing di laut. Mereka adalah Wamana dan Bhimaparakrama atau Bhima. Ketika sedang asyik memancing, tiba-tiba Bhima melihat mayat yang mengapung di atas air. “Hai lihat, ada orang hanyut!” seru Bhima yang segera menghampiri sesosok tubuh yang tertelungkup di atas sebuah tameng kayu itu. Ternyata orang itu masih hidup, hanya saja tubuhnya penuh dengan luka yang amat parah. Kedua nelayan itu pun segera membawa tubuh orang malang tersebut ke pantai untuk diberi pertolongan. “Hai, sepertinya dia prajurit kerajaan,” kata Wamana saat melihat pakaian yang dikenakan orang itu. “Kamu benar,” sahut Bhima. Setelah siuman, prajurit itu pun menceritakan peristiwa yang telah dialaminya mengenai kejadian perompakan seminggu yang lalu. Setelah mendengar cerita itu, Wamana dan Bhima segera mengantar prajurit itu ke istana untuk melapor kepada Raja Purnawarmana. “Betul-betul kejam dan biadab para bajak laut itu!” kata Raja Purnawarman geram begitu mendengar laporan tersebut. “Dengan ini, aku menyatakan perang terhadap gerombolan bajak laut itu!” ucap sang Raja.
Keesokan harinya, puluhan kapal perang kerajaan bertolak meninggalkan pelabuhan dan dipimpin langsung oleh Raja Purnawarman yang didampingi oleh Panglima Cakrawarman, Senopati Arwajala, serta Nagawarman. Wamana dan Bhima pun ikut serta dalam rombongan itu. Setelah berlayar selama beberapa hari, pada suatu malam armada kerajaan tiba di perairan Ujung Kulon. Dalam kegelapan yang mencekam, tampak dua titik cahaya kecil di tengah lautan. “Hai, lihat cahaya itu! Aku yakin itu adalah penerangan kapal bajak laut,” kata Panglima Cakrawarman kepada Senopati Arwajala. Bergegas mereka melaporkan hal ini kepada sang Raja. Raja Purnawarman kemudian segera memerintahkan seluruh pasukannya untuk bersiap-siap menyerang. Puluhan kapal perang perlahan-lahan mendekati kapal milik bajak laut itu dan lalu mengepungnya. Sementara itu, gerombolan bajak laut yang berada di dalam kapal itu tidak menyadari kehadiran pasukan kerajaan. Rupanya, mereka sudah terlelap, kecuali tiga orang yang terlihat masih terjaga. Itu pun mereka sedang asyik bermain judi di bawah penerangan lampu damar. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara-suara desingan yang begitu ramai. Ketika mereka hendak beranjak, ratusan mata tombak menyerbu ke kapal mereka. “Kapal kita diserang… Kapal kita diserang!” seru ketiga bajak laut itu panik. Pemimpin bajak laut dan anak-anak buahnya yang lain terbangun dari tidur mereka. Salah seorang dari mereka bertindak cepat dengan melompat ke jendela untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Alangkah terkejut ia saat melihat puluhan kapal milik kerajaan telah mengepung kapal mereka. “Kapal kita dikepung! Kapal kita dikepung!” teriaknya. Belum sempat mereka menyiapkan senjata, tiba-tiba terdengar bunyi terompet yang menggema. “Nguuunngggg..!!! Nguuunngggg..!!! Nguuunngggg..!!!”
Begitu terompet itu selesai berbunyi tiga kali, ratusan tombak dan anak panah meluncur ke kapal gerombolan bajak laut. Bersamaan dengan itu, suara-suara kayu hancur dan pekikan orang-orang yang terkena tombak dan anak panah pun terdengar. Tidak ada perlawanan yang berarti dari para bajak laut. Akhirnya, mereka pun dapat ditaklukkan sebelum pagi menjelang. Dari 80 anggota bajak laut tersebut, 27 orang di antaranya tewas, sedangkan sisanya menjadi tawanan kerajaan. Setelah suasana tenang, Wamana bersama Bhima dan beberapa prajurit lain segera naik kapal bajak laut untuk mencari sisa-sisa gerombolan yang mungkin masih bersembunyi, namun tidak seorangpun ditemukan. 

Ketika Wamana hendak turun dari kapal bajak laut, tiba-tiba terdengar suara yang mencurigakan. Cepat-cepatlah ia kembali masuk ke kapal. Ternyata dugaannya benar. Ia menemukan seorang pria yang berseragam prajurit kerajaan yang baunya amis sekali. Ketika Wamana menanyainya, prajurit itu justru melompat ke laut. Setelah kejadian itu, Wamana ke kapal untuk bergabung bersama pasukan kerajaan. Sementara itu, Raja Purnawarman dan para panglimanya sedang menanyai satu persatu para tawanan mengenai siapa pemimpin mereka. Setelah ditanya, tak seorang dari mereka yang mengetahuinya karena pemimpin mereka selalu berubah wujud. Namun, salah seorang dari tawanan itu memberitahukan mengenari ciri-ciri pemimpin mereka yaitu berbau amis dan berpenyakit asma. Wamana yang mendengar keterangan tersebut curiga terhadap prajurit yang melompat ke laut tadi dan menceritakannya kepada Raja. 

Setelah mendengar keterangan itu, rombongan sang Raja segera bertolak menuju Pantai Teluk Lada. Selanjutnya mereka menyusuri aliran Sungai Cidangiang hingga masuk ke daerah pedalaman. Setiba di sebuah kampung di tepi sungai yang kini bernama Desa Lebak, mereka disambut meriah oleh tetua kampung dan para warga. Untuk merayakan keberhasilan para pasukan kerajaan dalam menumpas gerombolan bajak laut, pihak kerajaan dan penduduk kampung akan mengabadikan peristiwa tersebut. Para prajurit serta penduduk setempat segera mempersiapkan segala sesuatunya. Kaum laki-laki sibuk menyiapkan puluhan kerbau untuk disembelih. Sedangkan kaum perempuan bertugas memasak makanan. Saat tiba waktu makan siang, kaum perempuan terlihat sibuk mengantarkan makanan untuk para pekerja yang sedang beristirahat. Wamana dan Bhima terlihat berbaur dengan para pekerja lainnya yang duduk di dekat tangga pondok tetua kampung. Sang Raja bersama para panglimanya sedang beristirahat di dalam pondok itu. Tidak berapa lama, terlihat barisan wanita hendak mengantarkan makanan untuk sang Raja. Di antara mereka, tampak seorang gadis cantik berjalan di barisan paling belakang sedang membawa dua buah kendi air minum. Ketika gadis itu melewati tangga pondok itu, Wamana tersentak kaget. Sejenak ia terdiam sambil mengembang-kempiskan hidungnya. Indra penciumannya merasakan bau amis persis yang pernah dikenalnya. Tanpa berpikir panjang, ia cepat-cepat berlari masuk ke dalam pondok dengan melompati beberapa anak tangga untuk menyusul gadis itu.

Saat tiba di dalam pondok, Wamana langsung melompat dan merangkul si gadis yang baru saja meletakkan kendi di hadapan sang Prabu. Tubuh wanita itu pun terdorong dan terjerembab ke depan karena tertindih oleh tubuh Wamana. “Huh, kena kamu sekarang!” seru Wamana sambil menekan kepala gadis itu. Setelah itu, Wamana segera menendang kendi air yang dibawa gadis tadi hingga terpental dan pecah. Semua terheran-heran melihat sikap Wamana, termasuk Bhima. “Hai, Wamana! Apa yang kamu lakukan terhadap gadis itu? Hentikan leluconmu itu!” seru Bhima. Dengan nafas tersengau-sengau, Wamana menjelaskan bahwa kendi itu berisi air minum yang telah dicampur racun. Ia juga mengatakan bahwa gadis itu berbau amis. “Masih ingatkah kalian keterangan para tawanan tadi? Bukankah ciri-ciri pemimpin bajak laut berbau amis dan dapat berubah wujud ?” kata Wamana. Mendengar penjelasan tersebut, sang Raja langsung memerintahkan panglimanya untuk meringkus gadis jelmaan pemimpin bajak laut itu. Ketika hendak diringkus, tiba-tiba gadis itu berubah wujud menjadi pria bertubuh besar. Ia murka dan meronta-ronta sehingga Wamana yang berada di atas punggungnya pun terpental ke belakang. Secepat kilat Bhima maju dan mencekik leher pemimpin bajak laut itu lalu mengangkatnya ke atas hingga matanya melotot dan wajahnya memerah. Cekikan Bhima amat kuat membuat tubuh pemimpin perampok itu menjadi lemas. Bhima pun segera melepaskan cekikannya hingga tubuh pria itu terjatuh dengan lunglai ke lantai. “Prajurit, cepat ringkus dia!” seru Bhima. Setelah itu, sang Raja memerintahkan para prajuritnya agar pemimpin gerombolan itu dihukum mati lalu dibuang ke laut. Dengan tewasnya pemimpin gerombolan itu, maka sempurnalah penumpasan gerombolan bajak laut oleh pasukan kerajaan. Untuk mengabadikan peristiwa ini, pasukan kerajaan bersama penduduk Lebak membangun prasasti di tepi Sungai Cidangiang. Prasasti itu ditulis langsung oleh Raja Purnawarman dengan menggunakan aksara Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Bunyi prasasti itu antara lain seperti berikut:

“Vikrantayam vanipateh, Prabbhuh satyaparakramah, Narendraddhvajabutena crimatah, Purnnavarmmanah” Artinya:(Ini tanda) penguasa dunia yang perkasa, prabu yang setia serta penuh kepahlawanan, yang menjadi panji segala raja, yang termasyur Purnawarman.

Hingga saat ini, prasasti tersebut masih dapat kita temukan di tepi Sungai Cidangiang, Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Oleh masyarakat setempat, prasasti tersebut dinamakan Prasasti Munjul.

Demikian cerita Legenda Prasasti Munjul dari Banten. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang suka berbuat jahat seperti para gerombolan bajak laut tersebut akan menerima ganjarannya.

1        2        3        4        5        6        7        8        9        10...

AWANG SUKMA DAN TELAGA BIDADARI

Di pinggir hutan yang lebat, di pematang dirindungi pepohonan yang lebat dan rindang, terdapat sebuah telaga kecil yang tak seberapa dalam. Air nya jernih dan bening, meskipun musim kemarau tak pernah kering sekalipun.

Di dekat telaga itu tinggallah seorang lelaki muda nan rupawan, Awang Sukma namanya. la hidup seorang diri dan tidak mempunyai istri. Ia menjadi seorang penguasa di daerah itu. Oleh karena itu, ia bergelar Data. Selain berwajah tampan, ia juga mahir meniup suling. Lagu-lagunya menyentuh perasaan siapa saja yang mendengarkannya.
Awang Sukma sering memanen burung jika pohon limau sedang berbunga dan burung-burung datangan mengisap madu. Ia memasang getah pohon yang sudah dimasak dengan melekatkannya di bilah-bilah bambu. Bilah-bilah bambu yang sudah diberi getah itu disebut pulut. Pulut itu dipasang di sela-sela tangkai bunga. Ketika burung hinggap, kepak sayapnya akan melekat di pulut. Semakin burung itu meronta, semakin erat sayapnya melekat. Akhirnya, burung itu menggelepar jatuh ke tanah bersama bilah-bilah pulut. Kemudian, Awang Sukma menangkap dan memasukkannya ke dalam keranjang. Biasanya, puluhan ekor burung dapat dibawanya pulang. Konon itulah sebabnya di kalangan penduduk, Awang Sukma dijuluki Datu Suling dan Datu Pulut.
Akan tetapi, pada suatu hari suasana di daerah itu amat sepi. Tidak ada burung dan tidak ada seekor pun serangga berminat mendekati bunga-bunga Iimau yang sedang merekah.

“Heran,” ujar Awang Sukma, “sepertinya bunga limau itu beracun sehingga burung-burung tidak mau lagi menghampirinya.” Awang Sukma tidak putus asa. Sambil berbaring di rindangnya pohon-pohon limau, ia melantunkan lagu-lagu indah melalui tiupan sulingnya. Selalu demikian yang ia lakukan sambil menjaga pulutnya mengena. Sebenarnya dengan meniup suling itu, ia ingin menghibur diri. Karena dengan lantunan irama suling, kerinduannya kepada mereka yang ia tinggalkan agak terobati. Konon, Awang Sukma adalah seorang pendatang dari negeri jauh.
Awang Sukma terpana oleh irama sulingnya. Tiupan angin lembut yang membelai rambutnya membuat ia terkantuk-kantuk. Akhirnya, gema suling menghilang dan suling itu tergeletak di sisinya. Ia tertidur.
Entah berapa lama ia terbuai mimpi, tiba-tiba ia terbangun karena dikejutkan suara hiruk pikuk sayap-sayap yang mengepak. Ia tidak percaya pada penglihatannya. Matanya diusap-usap.Ternyata, ada tujuh putri muda cantik turun dari angkasa. Mereka terbang menuju telaga. Tidak lama kemudian, terdengar suara ramai dan gelak tawa mereka bersembur-semburan air.
“Aku ingin melihat mereka dari dekat,” gumam Awang Sukma sambil mencari tempat untuk mengintip yang tidak mudah diketahui orang yang sedang diintip.
Dari tempat persembunyian itu, Awang Sukma dapat menatap lebih jelas. Ketujuh putri itu sama sekali tidak mengira jika sepasang mata lelaki tampan dengan tajamnya menikmati tubuh mereka. Mata Awang Sukma singgah pada pakaian mereka yang bertebaran di tepi telaga. Pakaian itu sekaligus sebagai alat untuk menerbangkan mereka saat turun ke telaga maupun kembali ke kediaman mereka di kayangan. Tentulah mereka bidadari yang turun ke mayapada.
Puas bersembur-semburan di air telaga yang jernih itu, mereka bermain-main di tepi telaga. Konon, permainan mereka disebut surui dayang. Mereka asyik bermain sehingga tidak tahu Awang Sukma mengambil dan menyembunyikan pakaian salah seorang putri. Kemudian, pakaian itu dimasukkannya ke dalam sebuah bumbung (tabung dari buluh bekas memasak lemang). Bumbung itu disembunyikannya dalam kindai (lumbung tempat menyimpan padi).
Ketika ketujuh putri ingin mengenakan pakaian kembali, ternyata salah seorang di antara mereka tidak menemukan pakaiannya. Perbuatan Awang Sukma itu membuat mereka panik. Putri yang hilang pakaiannya adalah putri bungsu, kebetulan paling cantik. Akibatnya, putri bungsu tidak dapat terbang kembali ke kayangan.
Kebingungan, ketakutan, dan rasa kesal membuat putri bungsu tidak berdaya. Saat itu, Awang Sukma keluar dari tempat persembunyiannya.
“Tuan Putri jangan takut dan sedih,” bujuk Awang Sukma, “tinggallah sementara bersama hamba.”
Tidak ada alasan bagi putri bungsu untuk menolak. Putri bungsu pun tinggal bersama Awang Sukma. Awang Sukma merasa bahwa putri bungsu itu jodohnya sehingga ia meminangnya. Putri bungsu pun bersedia menjadi istrinya. Mereka menjadi pasangan yang amat serasi, antara ketampanan dan kecantikan, kebijaksanaan dan kelemahlembutan, dalam ikatan cinta kasih. Buah cinta kasih mereka adalah seorang putri yang diberi nama Kumalasari. Wajah dan kulitnya mewarisi kecantikan ibunya.
Rupanya memang sudah adat dunia, tidak ada yang kekal dan abadi di muka bumi ini. Apa yang disembunyikan Awang Sukma selama ini akhirnya tercium baunya.
Sore itu, Awang Sukma tidur lelap sekali. Ia merasa amat lelah sehabis bekerja. Istrinya duduk di samping buaian putrinya yang juga tertidur lelap. Pada saat itu, seekor ayam hitam naik ke atas lumbung. Dia mengais dan mencotok padi di permukaan lumbung sambil berkotek dengan ribut. Padi pun berhamburan ke lantai. Putri bungsu memburunya. Tidak sengaja matanya menatap sebuah bumbung di bekas kaisan ayam hitam tadi. Putri bungsu mengambil bumbung itu karena ingin tahu isinya. Betapa kaget hatinya setelah melihat isi bumbung itu. “Ternyata, suamiku yang menyembunyikan pakaianku sehingga aku tidak bisa pulang bersama kakak-kakakku,” katanya sambil mendekap pakaian itu. Perasaan putri bungsu berkecamuk . Ia merasa gemas, kesal, tertipu, marah, dan sedih. Aneka rasa itu berbaur dengan rasa cinta kepada suaminya. “Aku harus kembali,” katanya dalam hati. Kemudian, putri bungsu mengenakan pakaian itu. Setelah itu, ia menggendong putrinya yang belum setahun usianya. Ia memeluk dan mencium putrinya sambil menangis. Kumalasari pun menangis. Tangis ibu dan anak itu membuat Awang Sukma terjaga. Awang Sukma terpana ketika menatap pakaian yang dikenakan istrinya. Bumbung tempat menyembunyikan pakaian itu tergeletak di atas kindai. Sadarlah ia bahwa saat perpisahan tidak mungkin ditunda lagi. “Adinda harus kembali,” kata istrinya. “Kanda, peliharalah putri kita, Kumalasari. Jika ia merindukan ibunya, Kanda ambillah tujuh biji kemiri, masukkan ke dalam bakul. Lantas, bakul itu Kanda goncang-goncangkan. Lantunkanlah sebuah lagu dengan suling Kanda. Adinda akan datang menjumpainya.”
Putri bungsu pun terbang dan menghilang di angkasa meninggalkan suami dan putri tercintanya. Pesan istrinya itu dilaksanakannya. Bagaimana pun kerinduan kepada istrinya terpaksa dipendam karena mereka tidak mungkin bersatu seperti sedia kala. Cinta kasihnya ditumpahkannya kepada Kumalasari, putrinya. Konon, Awang Sukma bersumpah dan melarang keturunannya untuk memelihara ayam hitam yang dianggap membawa petaka bagi dirinya. Telaga yang dimaksud dalam legenda di atas kemudian diberi nama Telaga Bidadari, terletak di desa Pematang Gadung. Desa itu termasuk wilayah Kecamatan Sungai Raya, delapan kilometer dari kota Kandangan, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan Propinsi Kalimantan Selatan. Sampai sekarang, Telaga Bidadari banyak dikunjungi orang. Selain itu, tidak ada penduduk yang memelihara ayam hitam, konon sesuai sumpah Awang Sukma yang bergelar Datu Pulut dan Datu Suling.


1       2       3        4       5       6       7       8       9       10......

CERITA ASAL TUNJUNG KUTAI

Suku Tunjung merupakan satu dari 28 anak suku Dayak yang terdapat di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Mereka sebagian besar mendiami tepian Sungai Mahakam dan Sungai Bengkalang. Pada zaman dahulu, suku ini dipimpin oleh raja secara turun-temurun. Siapakah raja pertama suku Tunjung yang kemudian menurunkan raja-raja berikutnya? Temukan jawabannya dalam Cerita Asal Usul Raja-Raja Suku Tunjung Dayak berikut ini!
Di daerah Kalimantan Timur, ada dua orang bersaudara yang bernama Gah Bogan dan Suman. Gah Bogan tinggal di Negeri Linggang yang terletak tidak jauh dari Sungai Bengkalang. Sementara itu, Suma menetap di Negeri Londong, sebelah kanan mudik Sungai Mahakam.
Suatu hari, istri Gah Bogan yang bernama Gah Bongek melahirkan anak kembar delapan. Barangkali karena alasan tidak sanggup menghidupi kedelapan anak tersebut sehingga pasangan suami istri itu memutuskan untuk membuang anak-anak mereka ke Sungai Mahakam.
Beberapa tahun kemudian, Gah Bongek kembali melahirkan anak kembar delapan. Keduanya pun bersepakat membuang kedelapan anak mereka ke tengah hutan. Ketika istri Gah Bogan kembali melahirkan yang ketiga kalinya dan mendapatkan anak kembar delapan lagi, akhirnya mereka pun memutuskan untuk merawat dan membesarkan kedelapan anak tersebut. Kedelapan anak itu mereka beri nama Sangkariak Igas, Sangkariak Laca, Sangkariak Lani, Sangkariak Inggih, Sangkariak Injung, Sangkariak Kebon, Sangkariak Lanan, dan yang paling bungsu adalah Sangkariak Daka.Waktu terus berjalan. Kedelapan bersaudara itu tumbuh dewasa dan mereka mendirikan permukiman di pinggiran Sungai Bengkalang. Sehari-hari mereka mencari ikan di sungai untuk memenuhi kebutuhan mereka. Suatu hari, saat mereka sedang makan bersama, tiba-tiba terdengar suara gaib dari langit. “Jo jo sambut disambut mati, tidak sambut mati,” demikian kata suara itu. “Ulur mati habis, tidak terulur mati lumus,” sahut Sangkariak Kebon menjawab suara itu.

Selang beberapa saat kemudian, tiba-tiba sebuah kelengkang (sejenis keranjang) yang teulur dengan tali seolah-olah turun dari langit. Ternyata kelengkang itu berisi seorang bayi laki-laki tampan yang menggenggam sebutir telur di tangan kanannya. Alangkah senangnya hati mereka mendapat hadiah tersebut dari Ape Bongan Tana (Tuhan Yang Mahakuasa). Oleh Sangkariak Igas, bayi itu diberi nama Aji Julur Dijangkat. Telur yang ada digenggaman bayi itu mereka simpan dengan baik. Beberapa hari kemudian, telur itu pun menetas menjadi seekor ayam jantan dan diberi nama Jong Perak Kemudi Besi. Dengan penuh kasih sayang, kedelapan bersaudara tersebut merawat dan membesarkan bayi dan ayam jantan itu hingga dewasa.
Sementara itu, istri Suma juga melahirkan delapan orang anak, enam laki-laki dan dua perempuan. Mereka adalah Kemunduk Bengkong, Kemunduk Kandangan, Kemunduk Murung, Kemunduk Jumai, Kemunduk Jangkak, Kemunduk Mandar, Kemunduk Bulan, dan Kemunduk Beran. Kini, kedelapan putra-putri Suma tersebut juga sudah beranjak dewasa. Sehari-hari mereka mencari kayu bakar di hutan dan menangkap ikan di Sungai Mahakam.
Suatu hari, kedelapan bersaudara itu baru saja pulang dari hutan mencari kayu bakar. Hari itu, mereka tidak hanya membawa kayu bakar, tetapi juga bambu petung untuk digunakan sebagai lantai rumah. Ketika mereka sedang asyik melepas lelah di depan rumah, tiba-tiba terdengar suara letusan keras disusul suara tangis seorang bayi beberapa saat setelahnya. Kedelapan bersaudara itu pun langsung terperanjat dari tempatnya. “Hai, suara apa itu?” tanya Kemunduk Kandangan. “Sepertinya suara letusan itu berasal dari tumpukan kayu bakar yang kita bawa tadi,” sahut Kemunduk Mandar. “Kalau begitu, ayo kita periksa!” seru Kemunduk Bengkong.
Setelah memeriksa sumber suara letusan tersebut, ternyata bambu petung yang dibawa oleh Kemunduk Bengkong tadi meledak dan mengeluarkan seorang bayi perempuan yang mungil dan cantik rupawan. Bayi itu tergeletak di atas puing-puing bambu petung yang meledak tadi. “Hai, lihat!” seru Kemunduk Jangkak, “Di tangan bayi itu tergenggam sebutir telur ayam.” Kemunduk Bengkong pun segera mengambil telur ayam itu lalu menggendong sang bayi. Oleh kedelapan bersaudara tersebut, bayi itu diberi nama Muk Bandar Bulan yang artinya “putri menerangi negeri”. Sementara itu, telur ayam itu mereka letakkan di tempat yang aman. Tak berapa lama kemudian, telur itu menetas menjadi seekor anak ayam betina. Sama halnya kedelapan anak Goh Bogan, Kemunduk Bengkong berserta saudara-saudaranya merawat dan membesarkan bayi dan anak ayam tersebut hingga dewasa. Putri Muk Bundar Bulan tumbuh menjadi seorang gadis yang cerdas dan bijaksana. Tak mengherankan jika ia diangkat menjadi ratu di sebuah negeri yang bernama Tanah Tunjung. Sejak itu, Ratu Negeri Tunjung itu kerap melakukan kunjungan ke negeri-negeri tetangga, termasuk Negeri Linggang.
Suatu hari, Ratu Muk Bundar Bulan mendengar kabar bahwa di Negeri Linggang ada seekor ayam jantan yang berbulu putih, berjambul, dan berjambing. Ayam jantan itu tak lain adalah si Jong Perak Kemudi Besi milik Aji Julur Dijangkat. Sang ratu sangat tertarik ingin membeli ayam jantan itu untuk dijadikan sebagai pasangan ayam betinanya. Ia pun mengajak Kemunduk Bengkong bersaudara untuk mengunjungi negeri itu. Keesokan hari, Ratu Muk Bundar Bulan beserta rombongannya berangkat menuju ke Negeri Linggang dengan menggunakan sepuluh perahu. Rupanya, pada saat yang bersamaan, Aji Julur Dijangkat beserta Sangkariak Igas bersaudara juga sedang melakukan perjalanan menuju ke Negeri Londong dengan membawa sepuluh perahu. Akhirnya, kedua rombongan tersebut bertemu di ujung Rantai Genoli dan mereka pun bersepakat untuk berhenti di Negeri Rantau Batu Gonali.

Saat kedua rombongan saling berhadapan, kedua ayam yang ada pada masing-masing rombongan itu saling menyahut. Hal itu pertanda bahwa kedua ayam tersebut saling menyukai. Tidak hanya itu, kedua pemilik ayam tersebut, yaitu Aji Julur Dijangkat dan Muk Bandar Bulan ternyata juga saling jatuh hati. “Kakanda bernama Sanghiyang Geragas Pati, anak Raja Sanghiyang Nata Dewi Kencana Peri dari Negeri Bukit Karangan Sari,” kata Muk Bandar Bulan kepada Aji Julur Dijangkat. “Nama Adinda pastilah Putri Ringsa Bunga, anak Sanghiyang Naga Salik dengan Bunda Dewi Randayan Bunga dari Negeri Gunung Asmara Cinta,” sahut Aji Julur Dijangkat.
Rupanya, pemuda tampan dan gadis cantik jelita yang berasal dari Negeri Kahyangan itu ternyata sudah saling mengenal satu sama lain. Oleh karena merasa cocok dan sudah saling mengenal asal-usul masing-masing, akhirnya Aji Julur Dijingkat dan Muk Bandar Bulan menikah dan setelah itu mereka menetap di Negeri Rantau Batu Gonali. Seluruh penduduk Negeri Linggang dan Negeri Londong pun pindah dan ikut menetap di negeri itu. Aji Julur Dijangkat dan Muk Bandar kemudian membuat rumah panjang yang terbuat dari kayu benggeris. Rumah panjang itu diberi nama Lamin. Hingga kini, rumah ini menjadi rumah tradisional khas Suku Dayak Tunjung di Kalimantan Timur. Sebagai bukti bahwa mereka berasal dari Kahyangan, masing-masing membawa dua biji pinang sendawar. Dua buah biji pinang milik Aji Julur Dijangkat mereka simpan untuk dimakan bersama, sedangkan dua buah biji pinang milik Muk Bandar Bulan mereka tanam di halaman rumah. Sejak itulah, negeri Rantau Batu Gonali berganti nama menjadi negeri Pinang Sendawar. 

Setelah beberapa tahun kemudian, Aji Julur Dijangkat dan Muk Bandar Bulan dikaruniai empat orang anak laki-laki. Mereka adalah Sualis Guna, Nara Gama, Jeliban Bona, dan Puncan Karna. Dalam asuhan kedua orang tua dengan penuh kasih sayang, mereka pun tumbuh dewasa. Suatu hari, sang ayah memanggil mereka untuk menghadap.
“Dengarkanlah, wahai putra-putraku! Kini ayah sudah tua. Sudah saatnya Ayah menunjuk salah satu di antara kalian untuk menggantikan kedudukan Ayah sebagai pemimpin negeri ini,” ungkap Aji Julur Dijingkat di hadapan putra-putranya dan disaksikan oleh sang istri. Kemududuk Bengkong dan adik-adiknya saling menatap satu sama lain. Masing-masing berharap dirinyalah yang akan ditunjuk oleh sang ayah. Namun, Aji Julur Dijangkat adalah raja yang adil dan bijaksana. “Ayah tidak akan menunjuk langsung salah seorang di antara kalian. Ayah pikir bahwa akan lebih adil jika diadakan lomba menyeberangi sungai sambil membawa gong sebanyak tujuh kali pulang pergi. Siapa pun di antara kalian yang memenangi lomba tersebut maka dialah yang berhak menggantikan Ayah,” ujar sang ayah, “Apakah kalian setuju dengan cara ini?” 
Sualas Guna dan adik-adiknya pun setuju. Pada hari yang telah ditentukan, perlombaan menyeberangi sungai antara keempat bersaudara tersebut siap dimulai. Seluruh rakyat pun berondong-bondong untuk menyaksikan perlombaan tersebut. Setelah gong berbunyi pertanda lomba telah dimulai, para peserta lomba pun mulai mengeluarkan kemampuan masing-masing. Sualas Guna yang mendapat giliran pertama ternyata gagal pada saat memasuki putaran keenam. Demikian pula, Nara Gama dan Jeliban Bona yang mendapat giliran kedua dan ketiga juga gagal yaitu masing-masing pada putaran keempat dan kelima.
Sebagai peserta terakhir, Puncan Karna yang telah mempelajari kesalahan-kesalahan kakak-kakaknya dan ditambah dengan kekuatannya yang luar biasa akhirnya dapat memenangkan lomba itu. Meskipun dinyatakan sebagai pemenang, putra bungsu Aji Julur Dijangkat itu tidak jadi diangkat menjadi Raja Pinang Sendawar karena ia harus pergi ke Kutai Kartanegara atas kehendak Dewata melalui mimpi sang ayah, Pada malam sebelum meninggalkan tanah kelahirannya, Puncan Karna mendapat pesan dari Sanghyang Naga Salik atau neneknya melalui mimpi bahwa Raja Negeri Kutai yang bernama Maharaja Sultan mempunyai enam orang anak. Dua di antaranya adalah putri yaitu Aji Dewa Putri dan Aji Ratu Putri. Menurut sang nenek, Aji Ratu Putri itulah yang akan menjadi jodohnya. Keesokan hari, berangkatlah Puncan Karna ke Negeri Kutai disertai oleh beberapa orang pengawal. Setiba di istana Kutai, pemuda tampan dan perkasa itu langsung menikahi Aji Ratu Putri dan mereka pun hidup berbahagia. Selang beberapa tahun kemudian, pasang suami istri itu dikaruniai beberapa putra yang secara turun-temurun menjadi Raja-raja Tunjung.
Demikian cerita Asal Usul Raja-Raja Tunjung dari Kalimantan Timur. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah pentingnya keutamaan sifat adil sebagaimana yang dimiliki oleh Aji Julur Dijangkat. Untuk menunjuk salah satu putranya yang akan menggantikan dirinya sebagai raja, ia mengadakan lomba menyeberangi sungai dan pemenangnyalah yang berhak atas kedudukan tersebut. Dengan demikian, maka tidak akan ada kecemburuan di antara putra-putranya.

1       2       3        4       5       6       7       8       9       10......